<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111</id><updated>2011-04-22T11:34:58.250+07:00</updated><category term='K#'/><category term='t#'/><category term='b#'/><category term='i#'/><category term='M#'/><category term='p#'/><category term='s#'/><title type='text'>Syiaran</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://syiaran.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-1814490306258331575</id><published>2008-12-06T16:23:00.000+07:00</published><updated>2008-12-06T16:24:34.890+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b#'/><title type='text'>Berhaji Kurang dari 24 Jam???</title><content type='html'>Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi menyatakan bahwa seorang muslim bisa menunaikan manasik haji urgen yang tidak boleh digantikan oleh orang lain atau digantikan oleh membayar denda. Ia bisa menunaikannya sendiri kurang dari 24 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengungkapkan, seseorang bisa melaksanakan demikian jika ia menunaikan haji pada tanggal 9 Dzulhijjah pagi hari atau waktu dhuha (Hari Arafah), kemudian ia niat haji mufrah atau ifrad atau qiran. Ia mengucapkan: “Labbaikallah Hajjan” jika niat haji ifrad. Atau mengucapkan: “Labbaikallah Hajjan wa ‘Umratan” jika ia niat qiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudiann ia menggabungkan antara dua jenis ibadah atau nusuk, yaitu haji dan umrah, namun ia wajib membayar hadyu, yaitu satu ekor domba yang disembelih pada hari itu atau hari Arafah. Pada kesempatan itu tempat thawaf dan tempat sa’i lebih longgar, ia bisa melaksanakan thawaf dan sa’i dengan lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia berangkat ke Arafah, ketika sudah sampai, ia shalat Zhuhur dan Ashar jama’ taqdim jika sampai sebelum ashar, atau jama’ ta’khir jika sampai setelah Ashar. Ia menetap di Arafah untuk memperbanyak dzikir, tasbih, tahmid, takbir, talbiyah, tilawah, do’a yang ia bisa dari do’a-do’a ma’tsurat sampai masuk waktu Maghrib.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian bersama rombongan haji lainnya menuju Muzdalifah. Sesampainya di sana ia shalat Maghrib dan Isya’ jama’ ta’khir. Selanjutnya menyantap makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia boleh langsung meninggalkan Mudzdalifah –menurut madzhab Malik-, namun lebih afdhol ia tetap menetap di sana sampai tengah malam, kemudian meninggalkankan Muzdalifah –sesuai madzhab Hambali- bersama kelompok orang tua, wanita dan anak-anak, menuju Mina untuk melempar Jumrah Aqabah, selanjutnya ia mencukur atau memotong rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya menuju Makkah untuk melaksanakan Thawaf Ifadhah yang merupakan rukun haji. Ia telah menyelesaikan semua rukun-rukun haji dan kewajiban-kewajiban dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Al Qaradhawi menambahkan dalam situs resminya, setelah itu ia bisa pulang ke tanah airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kegiatan ibadah haji yang lain bisa digantikan oleh orang lain, dengan membayar dam, yaitu menyembelih domba untuk setiap ibadah, atau sepertujuh sapi disembelih diwakili orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga diwakili orang lain dalam hal lempar jumrah ketiga, pada hari kedua dan hari ketiga, kemudian merayakan Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia wajib membayar hadyu jika ia berniat haji qiran –haji sekaligus umrah-, ia membayar hadyu untuk menggantikan bermalam di Mina. Ia juga membayar hadyu untuk menggantikan melempar jumrah. Atau memungkinkan menyembelih sapi untuk menggantikan kegiatan itu semua. Adapun jika ia membayar atau menyembelih lebih dari itu, maka itu menjadi sedekah baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah cara haji paling cepat yang ia bisa kerjakan. Dan proses ibadah seperti ini maqbul, diterima insya Allah, bagi yang membutuhkan proses seperti demikian. Karena Allah swt. tidak menjadikan dalam beragama ini kesulitan, Allah swt. menghendaki kemudahan dalam menjalankan ajaran Islam. Allahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutip :"dakwatuna.com"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-1814490306258331575?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1814490306258331575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1814490306258331575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/12/berhaji-kurang-dari-24-jam.html' title='Berhaji Kurang dari 24 Jam???'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-1050526915408252111</id><published>2008-12-06T16:16:00.000+07:00</published><updated>2008-12-06T16:21:42.343+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b#'/><title type='text'>Barang Syubhat Menggerogoti...???</title><content type='html'>”Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas, di antara keduanya ada perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa berhati-hati dengan yang syubhat, ia telah memelihara agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjatuh pada syubhat, maka ia telah terjerumus pada yang haram.” (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu diucapkan Nabi Muhammad saw. lebih dari 14 abad silam. Beliau memberi peringatan kepada kita untuk berhati-hati dalam masalah halal dan haram, serta sesuatu yang tidak jelas di antara keduanya. Hal itu menyangkut rezeki yang didapat, makanan yang dikonsumsi, pakaian yang dikenakan, nafkah yang diberikan kepada keluarga, dan hal-hal lain yang terkait dengan hidup keseharian kita. Semuanya harus berasal dari yang halal, baik secara hukum maupun secara zat. Allah swt. memerintahkan kita untuk selektif dalam mengkonsumsi segala hal yang menjadi kebutuhan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi mengkonsumsi barang haram sangat signifikan bagi kehidupan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia akan berdampak pada perilaku, akhlak, psikologi, emosi, kesehatan, dan keturunan kita. Sedangkan di akhirat ada dua kemungkinan: masuk surga dengan menikmati segala kenikmatannya, atau neraka dengan menanggung segala siksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu tak heran jika Abu Bakar sangat ketat dalam hal ini. Di satu riwayat disebutkan bahwa suatu hari pembantu Abu Bakar datang dengan membawa makanan. Seketika Abu Bakar mengambil dan memakannya. Sang Pembantu berkata, “Wahai Khalifah Rasululillah, biasanya setiap kali aku datang membawa makanan, Anda selalu bertanya dari mana asal makanan yang aku bawa. Kenapa sekarang Anda tidak bertanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar menjawab, “Sungguh hari ini aku sangat lapar sehingga lupa untuk menanyakan hal itu. Kalau begitu ceritakanlah, dari mana kamu mendapat makanan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Pembantu menjawab, “Dulu sebelum aku masuk Islam profesiku adalah sebagai dukun. Suatu hari aku pernah diminta salah satu suku untuk membacakan mantra di kampong mereka. Mereka berjanji akan membalas jasaku itu. Pada hari ini aku melewati kampung itu dan kebetulan mereka sedang mengadakan pesta, maka mereka pun menyiapkan makanan untukku sebagai balasan atas jasa perdukunan yang pernah kuberikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu spontan Abu Bakar memasukkan jari ke kerongkongannya agar bisa muntah. Setelah muntah Abu Bakar berkata, “Jika untuk mengeluarkan makanan itu aku harus menebus dengan nyawa, pasti akan aku lakukan karena aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidak ada daging yang tumbuh dari makanan yang haram melainkan neraka layak untuk dirinya’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Abu Bakar. Contoh pemimpin yang menjaga dirinya dari hal-hal syubhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutip :"dakwatuna.com"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-1050526915408252111?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1050526915408252111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1050526915408252111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/12/barang-syubhat-menggerogoti.html' title='Barang Syubhat Menggerogoti...???'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-4741321408831975128</id><published>2008-12-06T16:15:00.000+07:00</published><updated>2008-12-06T16:19:06.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M#'/><title type='text'>Makanlah Yang Halal</title><content type='html'>Allah swt. mewajibkan umat Islam untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thayyib (baik), baik yang bersumber dari jenis makanan hewani maupun jenis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 168)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(yaitu) orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al-A`raf: 157).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menanyakan kepadamu: ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah: ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.” (Al-Maidah: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (An-Nahl: 114)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Al-Maidah: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Maidah: 96)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. juga berpesan tentang keharusan memperhatikan halal dan haram makanan yang kita konsumsi demi menjaga kesucian diri dan keterkabulan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai umat manusia, sesungguhnya Allah adalah thayyib (baik), tidak akan menerima kecuali yang thayyib (baik dan halal); dan Allah memerintahkan kepada orang beriman segala apa yang Ia perintahkan kepada para rasul. Ia berfirman, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (Al-Mu’minun: 51), dan berfiman pula, ‘Hai orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.’” (Al-Baqarah: 172)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan badannya berdebu. Sambil menengadahkan tangan ke langit ia berdoa, “Ya Tuhan, ya Tuhan….’ –Berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan kondisi seperti itu, pada umumnya dikabulkan oleh Allah– Sedangkan, makanan orang itu haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram. Nabi memberikan komentar, “Jika demikian halnya, bagaimana mungkin ia akan dikabulkan doanya?” (Muslim dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan di antara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barangsiapa hati-hati dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya.” (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks status hukum, mengkonsumsi suatu makanan, selama tidak ditemukan dalil yang akurat ataupun indikasi kuat yang dapat dikategorisasikan ke dalam salah satu jenis yang diharamkan Allah, maka seharusnya kita kembali kepada hukum asal, yakni halal atau mubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya Al-Halal wal Haram fil Islam menulis, hukum asal segala sesuatu adalah boleh (al-Ashlu fil asya’ al-ibahah). Menurut beliau, hukum asal segala sesuatu yang Allah ciptakan dan manfaatnya adalah halal dalan boleh, kecuali apa yang ditentukan hukum keharamannya secara pasti oleh nash-nash yang shahih dan sharih (accurate texts and clear statements). Maka, jika tidak ada nash seperti itu, hukumnya kembali kepada asalnya, yakni boleh (istishab hukmil ashl). Prinsip inilah yang dipakai Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menentukan hukum segala sesuatu selain ibadah dan akidah (Qawa’id Nuraniyah Fiqhiyah, hal. 112-113).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah hukum itu berdasarkan ayat-ayat yang jelas (sharih). Firman Allah, “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”(Al-Baqarah:29). Demikian pula dalam surat Al-Jatsiyah: 13 dan Luqman: 20. Inilah bentuk rahmat Allah kepada umat manusia dengan berlakunya syariat yang memperluas wilayah halal dan mempersempit wilayah haram, seperti ditegaskan oleh Nabi saw., “Apa yang Allah halalkan dalam kitab-Nya, maka ia adalah halal (hukumnya) dan apa yang Dia haramkan, maka (hukumnya) haram. Sedang apa yang Dia diamkan, maka ia adalah suatu yang dimaafkan. Maka terimalah pemaafan-Nya, karena Allah tidak mungkin melupakan sesuatu.” (Hakim dan Bazzar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya tentang hukum mentega, keju, dan keledai liar, Rasulullah saw. enggan menjawab satu per satu masalah parsial ini. Namun beliau mengalihkannya kepada kaidah dasar hukum agar mereka dapat cerdas menyimpulkan segala persoalan. Kata beliau, “Sesuatu yang halal itu adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya; dan sesuatu yang haram itu adalah apa yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya; dan apa yang Allah diamkan (tidak sebutkan) berarti termasuk apa yang dimaafkan (dibolehkan) untuk kamu.” (Tirmidzi dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Rasulullah saw. melarang kita mencari-cari alasan untuk mempersoalkan sesuatu yang Allah sengaja diamkan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa hal fardhu, maka jangan kamu abaikan; dan telah menggariskan beberapa batasan, maka jangan kamu langgar; dan telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kamu terjang; serta telah mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat bagi kamu tanpa unsur kelupaan, maka jangan kamu permasalahkan.” (Dar Quthni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita telusuri berbagai macam kitab fiqh dalam masalah makanan, niscaya akan kita temukan suatu kesimpulan bahwa hukum asal makanan adalah halal dan tidak dapat diharamkan, kecuali berdasarkan dalil khas yang spesifik (lihat Mausu’ah Fiqhiyah, Kuwait, vol. V hal. 123).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menjelaskan secara jelas dan tuntas semua yang halal maupun yang haram (lihat Al-A’raf: 157, An-Nisa’: 29, Al-Maidah: 4, Al-An’am: 119, 145). Dari sini para ulama menyimpulkan kaidah bahwa prinsip dasar makanan adalah halal, kecuali bila terdapat larangan dari nash (Al-Qur’an dan Sunnah). Di antara faktor-faktor dan unsur-unsur kandungan yang dapat mengharamkan makanan di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipastikan dapat menimbulkan dharar (bahaya) bagi fisik manusia. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Baqarah: 195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda, “Tidak dibolehkan melakukan sesuatu yang membahayakan (dharar) diri sendiri dan orang lain (dhirar).” (Ibnu Majah dan Ahmad.). Beliu juga bersabda, “Barangsiapa yang mereguk racun lalu membunuh dirinya sendiri, maka racunnya akan tetap berada di tangannya seraya ia mereguknya di neraka Jahannam selama-lamanya.” (Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memabukkan, melalaikan, atau menghilangkan ingatan. Yang termasuk kategori ini adalah segala jenis minuman keras, obat-obatan terlarang, candu, narkotika, dan zat adiktif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah: 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Segala sesuatu jika banyaknya memabukkan, maka yang sedikitnyapun haram.” (Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najis atau terkontaminasi najis. Contohnya babi, darah, anjing, bangkai (selain ikan dan belalang). (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah, Kuwait, vol. V/125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, “Katakanlah: ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi karena semua itu najis, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (Al-An’am: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di dalam madzhab Syafi’i kita temukan larangan untuk mengkonsumsi makanan berasal dari binatang yang hidup di dua alam (air dan darat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita dapati larangan Nabi saw. atas beberapa jenis makanan atau binatang di luar konteks yang dinashkan oleh Al-Qur’an, maka ulama fiqih dan ushul –seperti Imam Asy-Syaukani– mengkategorikan larangan tersebut sebagai larangan makruh, bukan haram. Atau, bila terdapat kesesuaian ‘illat (sebab) hukum pengharaman dalam Al-Qur’an –seperti najis atau indikasi najis, rijs atau fisq yang semuanya digolongkan khabaits kebalikan halal yang identik dengan thoyyibat secara umum– maka hal itu termasuk kategori qiyas (analogi) terhadap larangan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Syaukani melihat tidak ada relevansinya pengharaman binatang yang diperintahkan oleh Nabi untuk dibunuh maupun yang dilarang Nabi untuk dibunuh, yang merupakan konsekuensi logis dan kultural, untuk menjadi dalil pengharaman memakannya. Maka, hal itu tidak dapat dijadikan dasar pengharaman. Namun bila binatang yang diperintahkan Nabi untuk membunuhnya maupun yang dilarang untuk membunuhnya termasuk kategori khabaits (najis), maka pengharamannya berdasarkan ayat di atas. Jika tidak mengandung unsur khabaits yang manshus (ditegaskan oleh nash ayat), maka hukumnya kembali kepada hukum asal, yakni halal berdasarkan dalil dan kaidah umum (lihat Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, V/14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutip :"dakwatuna.com"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-4741321408831975128?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/4741321408831975128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/4741321408831975128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/12/makanlah-yang-halal.html' title='Makanlah Yang Halal'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-1210658418545657101</id><published>2008-12-06T16:04:00.000+07:00</published><updated>2008-12-06T16:22:30.436+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M#'/><title type='text'>Menyelami Perbankan Islam</title><content type='html'>meskipun gonjang-ganjing finansial menghantam pasar dunia, namun Hongkong tetap akan mengeluarkan produk-produk keuangan Islam, sebagai langkah awal dan penting, agar tetap menjadi kiblat industri keuangan Islam di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rilis yang disampaikan di perwakilan berita Barnama, Wakil Ketua Lembaga Keuangan Hongkong, Eddie Yue mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada keraguan sedikit pun dalam langkah kami untuk menerbitkan produk industri keuangan Islam di Hong Kong. Prioritas kami adalah menancapkan kaki kuat dalam membentuk pasar produk-produk Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan target dari program ini adalah agar Hong Kong memberi kesempatan bagi para investor Timur Tengah dan Asia yang peduli dengan industri keuangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yue menjelaskan bahwa dengan masuknya industri keuangan Islam merupakan produk baru dalam sistem keuangan Hong Kong, dengan demikian akan menambah prestasi Hong Kong dalam hal pelayanan keuangan di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singapura Mengikuti Jejak Berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yue mengatakan bahwa dalam waktu dekat Hongkong akan bekerjasama dengan negara tetangga, Singapura dalam hal penerbitan fasilitas sukuk, tahun depan. Gunanya untuk menguatkan pertumbuhan industri keuangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktur Utama Pusat Bank Singapura mengatakan: “Bahwa sejumlah lembaga-lembaga keuangan menunjukkan perhatiannya dalam mengatur fasilitas sukuk Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukuk Islam sendiri sesuai dengan syariah Islam yang melarang menarik riba atau manfaat tambahan, dan berdasarkan atas pembagian keuntungan. Lembaga-lembaga yang konsen dalam menggunakan produk-produk Islam, selalu memberikan sejumlah laba atau uang untuk investor dari keuntungan proyek-proyek perdagangan, sebagai ganti dari riba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana penerbitan fasilitas sukuk Islam juga tidak berinvestasi dalam kegiatan-kegiatan yang diharamkan, seperti terkait alkohol, perjudian, bisnnis persenjataan, tembakau, daging babi, dan materi-materi pronografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat ekonomi melihat bahwa kesuksesan Hongkong bisa dilihat dari kiprah dan kiblatnya bagi sistem keuangan di Asia, meskipun sebagai pemain baru. Dan dengan masuknya sistem industri keuangan Islam, akan menambah menarik para investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pengamat itu mengingatkan bahwa Hongkong dan Singapura akan menghadapi persaingan kuat dari negara tetangganya, Malaysia sebagai pusat keuangan dan perbankan Islam di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri keuangan Islam, merupakan salah satu produk keuangan dunia yang berkembang sangat pesat, karena nilai investasinya mampu melebihi 1 trilyun dollar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamat ekonomi menegaskann bahwa penerbitan fasilitas sukuk Islam mampu menarik jumlah besar investor dari berbagai belahan dunia, yang menjadikan beberapa negara membuka produk Islam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam survai terbaru, bahwa pembelian dan pengeluaran fasilitas sukuk Islam tidak hanya khusus bagi investor dunia Islam, bahkan Eropa dan Amerika Serikat tertarik untuk mengembangkan produk-produk Islami ini. (io/ut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutip :"dakwatuna.com"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-1210658418545657101?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1210658418545657101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1210658418545657101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/12/menyelami-perbankan-islam.html' title='Menyelami Perbankan Islam'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-4425867097671894029</id><published>2008-09-10T13:35:00.000+07:00</published><updated>2008-09-10T13:35:00.698+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='s#'/><title type='text'>Saling Mencintai Ala Islam</title><content type='html'>Mengucapkan dan menjawab salam adalah hak dan kewajiban antar-muslim yang dapat menguatkan tali persaudaraan dan ikatan kasih sayang. Apalagi dilakukan dengan wajah ceria, gembira, dan hangat. Karena itu tak heran jika Abdullah bin Harits bin Hazm r.a. berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyum melebihi Rasulullah saw.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya senyum. Rasulullah saw. memasukkan ucapan salam sebagai salah satu dari enam hak muslim yang harus dipenuhi saudaranya. Abu Hurairah r.a. menyampaikan kepada kita bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Hak muslim yang mesti dilakukan terhadap muslim lainnya itu ada enam.” Ada yang bertanya, “Apakah yang enam itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Jika kamu bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; jika ia mengundangmu, datangilah; jika ia minta nasihat, nasihatilah; jika ia bersin lalu memuji Allah, doakanlah; dan jika ia sakit, jenguklah ia; jika ia meninggal, maka antarkanlah jenazahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. juga menyampaikan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman; dan kamu tidak akan beriman, kecuali jika kamu saling mencintai. Senangkah kamu jika aku tunjukkan kepada sesuatu yang jika kamu melakukannya kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antaramu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapkan Kepada Siapapun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bercerita bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasululah saw., (pengamalan) Islam yang bagaimanakah yang lebih baik? Nabi menjawab, “Memberi makanan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang belum kamu kenal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan kata Asma binti Yazid r.a., Rasulullah saw. melewati kami (sejumlah wanita) dan mengucapkan salam kepada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut suatu riwayat, Asma berkata, suatu hari Rasulullah saw. melewati mesjid ketika kami sejumlah wanita berada di sana, Rasulullah saw. melambaikan tangannya dengan (mengucapkan) salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kata Anas bin Malik r.a., ia melewati anak-anak, lalu ia mengucapkan salam kepada mereka. Ia melakukan itu karena Rasulullah saw. melakukan hal seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mengucapkan salam adalah salah satu hak seorang muslim yang wajib ditunaikan oleh muslim yang lain. Sebagai sebuah hak, mengucapkan salam tidak pantas untuk ditinggalkan pelaksanaannya. Memang ada hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abdil Barr yang mengatakan bahwa mengucapkan salam itu sunnah, sedangkan menjawabnya adalah wajib (fardhu).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Makna Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata as-salaam adalah salah satu nama Allah swt. Ketika kita mengucapkan assalamu’alaikum, artinya kamu dalam lindungan Allah swt. sebagaimana ucapan Allahu ma’aka, Allah menyertai (dan melindungi) kamu, juga seperti ucapan Allahu yahfazhuka, Allah melindungi kamu. As-salaamu juga berarti as-salaamah, keselamatan. Jadi, assalaamu’alaikum bermakna keselamatan dari Allah menyertaimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan salam dilafalkan minimal assalaamu’alaikum. Menggunakan kum, kalian, meskipun muslim yang disapa hanya satu orang. Sebab, salam tersebut juga disampaikan kepada malaikat yang ada di sekitar diri si mulim yang disapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ucapan salam yang sempurna adalah assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh, semoga keselamatan dari Allah menyertaimu, begitu juga rahmat dan berkah-Nya. Jika yang diberi salam hanya satu orang, maka wajib orang yang diberi salam membalas salam tersebut. Jika yang disalami jama’ah (orang banyak), menjadi fardhu kifayah untuk dijawab oleh semua dan dianggap cukup jika dijawab oleh sebagian jama’ah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Dicukupkan bagi suatu kelompok (jama’ah) jika berlalu untuk mengucapkan salam salah sati di antara mereka, dan cukuplah dari jama’ah (kelompok) untuk menjawab salam (oleh) salah satu di antara mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk salam mesti sesuai dengan yang disunnahkan Rasulullah saw. Kata Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Ketika Allah menciptakan Nabi Adam r.a. yang tingginya enam puluh dzira (dari ujung jari hingga siku), Allah berfirman, ‘Pergilah, dan ucapkanlah salam kepada mereka -sejumlah malaikat yang sedang duduk-lalu didengarkanlah apa jawaban mereka terhadap salamu itu.’ (Jawaban mereka) itu adalah ucapan salam kamu dan salam keturunanmu. Lalu ia mengucapkan, assalaam ‘alaikum. Dan mereka pun menjawab, assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi, jadi mereka, para malaikat, itu menambahkan wa rahmatullahi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Muhammad bin Amr bin ‘Atha berkata, aku pernah duduk dekat Ibn Abbas r.a. lalu ada orang Yaman yang mengucapkan salam kepadanya. Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh –semoga salam sejahtera dari Allah kepadamu beserta rahmat dan berkah-Nya– lalu ia pun masih menambahkan sesuatu setelah (kata wa barakaatuh) itu. Ibn Abbas r.a. mengatakan -ia ketika itu telah buta-”Siapa itu?” Mereka -sahabat-mengatakan, “Itu adalah orang Yaman yang datang berkunjung kepadamu.” Lalu mereka mengenalkan orang Yaman tersebut kepadanya. Lalu Ibn Abbas r.a. berkata, “Sesungguhnya salam itu selesai sampai al-barakah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Sulaim Al-Hujaimi bercerita bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah saw. dan mengucapkan, “‘Alaikassalaam, ya Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Jangan mengucapkan ‘alaikassalaam, sebab kata-kata ‘alaikassalaam itu ucapan selamat (bagi) mayit. Jika engkau mengucapkan salam, maka ucapkanlah salaam ‘alaika sehingga yang menjawab akan mengatakan ‘alaikassalaam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Jami’ al-Ushuul fii Ahaadits ar-Rasuul, Ibnu Atsir mengatakan, sesungguhnya assalamu ‘alaika merupakan ucapan selamat (bagi) mayit. Diperkirakan bahwa yang disunahkan dalam memberikan salam kepada mayit adalah ‘alaikumussalam sebagaimana dikatakan dan dilakukan oleh banyak orang awam. Ada riwayat yang cukup kuat bahwa Nabi Muhammad saw. mendatangi kuburan seraya mengucapkan salam. Ia mengucapkan, assalaamu ‘alaikum, wahai ahli kubur dari kaum mukminin. Dalam salam yang diucapkan Rasulullah saw. tersebut kata as-salaam disebutkan sebelum menyebutkan orang yang didoakan, sebagaimana salam untuk orang-orang yang masih hidup. Mengapa Rasulullah saw. melakukan hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu menjadi isyarat darinya tentang sesuatu yang menjadi tradisi salam (ucapan selamat) untuk orang yang telah meninggal. Sebab mereka, para sahabat, pernah mendahulukan nama mayit sebelum berdoa. Menurut sunnah Nabi, tidak ada bedanya antara salam bagi yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Ini berkaitan dengan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun yang berhubungan dengan keburukan dan kejahatan, justru tradisinya adalah mendahulukan orang yang didoakan sebelum mengucapkan “selamat”. Sehingga mereka (mesti) mengatakan, ‘alaika la’natullah -semoga kutukan Allah atasmu–, wa ‘alaihi ghadhabullah -semoga murka Allah atasnya–. Perhatikan firman Allah swt., “Dan sesungguhnya atasmu laknat-Ku sampai hari pembalasan.” (Shad: 78). Dan berkenaan dengan salam itu ada dua logat, salaamun ‘alaikum dan assalaamu ‘alaikum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian paparan Ibnul Atsir. Wassalaamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Mochamad Bugi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-4425867097671894029?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/4425867097671894029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/4425867097671894029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/09/saling-mencintai-ala-islam.html' title='Saling Mencintai Ala Islam'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-3588562865221091878</id><published>2008-09-08T13:30:00.000+07:00</published><updated>2008-09-08T13:30:01.162+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='K#'/><title type='text'>Kayalahdan Masuk Surga!!!</title><content type='html'>Dari Abi ‘Abdillah Tsauban Bin Bujdad bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Dinar yang paling utama yang dibelanjakan seseorang adalah dinar yang ia belanjakan untuk keluarganya, dinar yang ia belanjakan untuk kendaraannya di jalan Allah, dan dinar yang ia infakkan untuk rekan-rekannya (yang tengah berjuang) di jalan Allah.” (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Nuzhatul-Muttaqin (syarah Riyadush-Shalihin karya Imam An-Nawawi) disebutkan, hadits itu menjelaskan peringkat keutamaan pengeluaran harta (infak) bahwa memberi nafkah kepada keluarga merupakan infak yang paling mulia. Dalam hadits lain disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, dinar yang engkau infakkan untuk (mememerdekakan) hamba sahaya, dinar yang engkau infakkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan untuk keluarga, yang paling utama di antara semua itu adalah dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke manapun alokasinya, yang jelas seseorang tidak mungkin dapat berinfak jika tidak memiliki harta. Lebih-lebih jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan kita terlibat dalam jihad. Selalu saja disandingkan antara kewajiban berjihad dengan jiwa dengan kewajiban berjihad dengan harta. Bahkan dari semua ayat yang memerintahkan kita berjihad dengan harta dan jiwa, berjihad dengan harta selalu didahulukan kecuali pada satu ayat saja yakni ayat 111 surah At-Taubah, yang maknanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin jiwa dan harta mereka dengan mendapatkan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya, hartalah yang disebut terdahulu. Perhatikan ayat-ayat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, inginkah kalian aku tunjukkan pada suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih. Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kalian berjihad di jalan Allah denganh harta dan jiwa kalian.” (Ash-Shaf: 10-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini diperkuat dengan adanya kewajiban zakat. &lt;span class="fullpost"&gt; Dalam urusan yang satu ini memang ada kesalahan persepsi pada sebagian kaum muslimin. Kewajiban zakat sering dipahami begini: kalau punya harta, zakatlah; kalau tidak punya, tidak usah mengeluarkan zakat. Secara fiqih, pemahaman itu sangat benar. Tapi semangatnya bukanlah semangat kepasrahan pada keadaan. Semangat perintah zakat harusnya dipahami: carilah uang, kumpulkanlah harta agar dapat melaksanakan perintah Allah yang bernama zakat. Seharusnya kita membawa semangat shalat untuk diterapkan pada zakat. Kita selalu berpikir kita harus bisa melaksanakan shalat dengan segala perjuangan yang menjadi konsekuensinya. Dari mulai mencari penutup aurat, mencari tempat shalat, menentukan arah kiblat, mensucikan diri, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua mematahkan anggapan yang masih dianut sebagian orang bahwa kesalihan dan ketakwaan identik dengan kepapaan, kemelaratan, kesengsaraan, dan ketertindasan. Seolah-olah hanya orang miskin, jelata, dan tertindaslah yang layak menghuni surga. Sebaliknya orang kaya dan orang yang punya jabatan tidak punya tempat di surga. Ini diperparah dengan sering disitirnya hadits-hadits dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu) yang memberikan pesan untuk menjauhi dunia sejauh-juahnya demi mencapai ketakwaan dan kesucian jiwa. Atau mungkin juga menyitir hadits shahih tentang zuhud dengan pemahaman yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zuhud tidaklah identik dengan melarat. Zuhud adalah kepuasaan hati dengan apa yang diberikan Allah swt. Zuhud adalah ketiadaan ikatan hati kepada kekayaan. Bahwa sambil merasa puas dengan apa yang Allah berikan dan sambil meniadakan ikatan hati dengan harta seseorang memiliki harta dan jabatan, tidaklah menafikan sifat zuhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman Bin ‘Affan adalah konglomerat dan kaya raya. Beliau termasuk sahabat Nabi saw. yang dijamin masuk sorga. Demikian pula halnya dengan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf. Beliau sukses dalam bisnis dan menjadi saudagar kaya raya. Toh beliau juga termasuk yang dijamin masuk surga. Umar Bin ‘Abdul-‘Aziz, khalifah yang kaya raya. Tapi justeru dia termasuk orang zuhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi harta dalam Islam sama dengan posisi kemiskinan: sebagai ujian bagi manusia. Dengan kekayaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kekayaan pula orang bisa masuk neraka. Dengan kepapaan orang bisa masuk surga sebagaimana dengan kepapaan pula orang bisa masuk neraka. Semuanya ujian! Allah swt. menegaskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami coba kalian dengan keburukan dan kebaikan, (semuanya) sebagai ujian.” (Al-Anbiya: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya dunia itu manis dan menghijau. Dan sesungguhnya Allah mengangkat kalian sebagai khalifah di dalamnya untuk melihat (menguji) bagaimana kalian bekerja. Maka berhati-hatilah dengan dunia dan berhati-hatilah dengan wanita. Karena sesungguhnya fitnah Bani Israil adalah pada wanita.” (Riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang yang saleh bukanlah orang memilih meninggalkan harta melainkan yang lulus dalam ujian mengelola harta itu. Seseorang dianggap lulus ujian dalam urusan harta manakala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hanya menempuh cara halal untuk memperoleh harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kiamat, setiap orang akan diminta pertanggungjawaban terkait dengan hartanya, dari manakah ia memperolehnya dan dengan cara apa? Ini batu ujian pertama. Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman seperti yang diperintahkan kepada para rasul. Dia berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari yang baik dan beramal salehlah karena sessungguhnya Aku mengetahui apa yang kamlian lakukan’. Dia juga berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik dari yang Kami rezekikan kepada kalian’.” Lalu Rasulullah saw. menerangkan tentang orang yang mengadakan perjalanan panjang, kusut masai dan berdebu. Ia mengadakahkan kedua tangannya (berdoa) ke langit (sambil mengatakan): Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dari yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan.” (Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Harta itu tidak menyebabkan sombong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang suksus mengelola harta adalah orang yang dengan hartanya justeru semakin rendah hati dan menyadari bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan atau amanah dari Allah. Abdurrahman bin ‘Auf yang padahal termasuk orang yang dijamin masuk surga pernah berlinang air mata saat dirinya siap menyantap hidangan lezat yang ada di hadapannya. Ketika ditanya penyebab ia menangis, ia menjawab, “Aku takut hanya yang kunikmati di dunia inilah yang menjadi ganjaranku dari Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Menjadi fasilitas untuk mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik harta yang saleh adalah yang ada pada orang saleh.” Beliau juga memerintahkan kepada kita, “Jauhkanlah dirimu dari neraka walau dengan hanya sebelah kurma.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Menjadi fasilitas untuk silaturahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Infaq adalah baik. Dan infaq kepada kerabat adalah lebih baik lagi. Karena selain bernilai taqarrub, perbauatan itu juga merupakan upaya silaturahim. Rasulullah saw. bersabda, “Shadaqah kepada orang misikin adalah satu shadaqah dan shadaqah kepada orang yang punya hubungan rahim (kerabat) adalah dua shadaqah: shadaqah dan shilah (menyambungkan).” (At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Menjadi fasilitas untuk perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan Islam jelas tidak mungkin tanpa dukungan finansial. Kekuatan orang-orang kafir harus dihadapi dengan kekuatan optimal kaum muslimin. Dan ini tentu saja salah kekutan itu adalah kekuatan maliyyah (finansial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebagian ajaran Islam yang terkait dengan kekayaan. Jadi, menjadi orang kaya, siapa takut? Allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rikza Maulan, M.Ag&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-3588562865221091878?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/3588562865221091878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/3588562865221091878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/09/kayalahdan-masuk-surga.html' title='Kayalahdan Masuk Surga!!!'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-7197809329911852209</id><published>2008-09-06T13:28:00.000+07:00</published><updated>2008-09-06T13:28:00.545+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M#'/><title type='text'>Jual Waktu dengan Pahala</title><content type='html'>“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-hadid: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Suci Allah yang menggantikan malam dengan siang dan sore pun menyongsong malam. Hari berlalu menyusun pekan. Hitungan bulan-bulan pun membentuk tahun. Tanpa terasa, pintu ajal kian menjelang. Sementara, peluang hidup tak ada siaran ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap atau tidak, waktu pasti akan meninggalkan kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh apa pun satu tahun ke depan jauh lebih dekat daripada satu detik yang lalu. Karena waktu yang berlalu, walaupun satu detik, tidak akan bisa dimanfaatkan lagi. Ia sudah jauh meninggalkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pun dengan berbagai kesempatan yang kita miliki. Pagi ini adalah pagi ini. Kalau datang siang, ia tidak akan pernah kembali. Kalau kesempatan di pagi ini lewat, hilang sudah momentum yang bisa diambil. Karena, belum tentu kita bisa berjumpa dengan pagi esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang pernah menggugah Umar bin Abdul Aziz. Suatu malam, karena sangat lelah, Umar menolak kunjungan seorang warga. “Esok pagi saja!” ucapnya spontan. Khalifah Umar berharap esok pagi ia bisa lebih segar sehingga urusan bisa diselesaikan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebuah ucapan tak terduga tiba-tiba menyentak kesadaran Khalifah kelima ini. Warga itu mengatakan, “Wahai Umar, apakah kamu yakin akan tetap hidup esok pagi?” Deg. Umar pun langsung beristighfar. Saat itu juga, ia menerima kunjungan warga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menganggap remeh sebuah ruang waktu, sebenarnya kita sedang membuang sebuah kesempatan. Kalau pergi, kesempatan tidak akan kembali. Ia akan pergi bersama berlalunya waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” (Al-Ashr: 1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap atau tidak, jatah waktu kita terus berkurang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang sedang merayakan hari ulang tahun, sebenarnya ia sedang merayakan berkurangnya jatah usia. Umurnya sudah berkurang satu tahun. Atau, hari kematiannya lebih dekat satu tahun. Dalam skala yang lebih luas,&lt;span class="fullpost"&gt; pergantian tahun adalah berarti berkurangnya umur dunia. Atau, hari kiamat lebih dekat satu tahun dibanding tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jatah-jatah waktu itu terus berkurang, peluang kita semakin sedikit. Biasanya, penyesalan datang belakangan. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Al-Fajr: 23-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak yang sadar, begitu banyak peluang menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, seseorang menganggap biasa mengisi hari-hari dengan santai, televisi, dan berbagai mainan. Bahkan ada yang bisa berjam-jam bersibuk-sibuk dengan video game. Sedikit pun tak muncul rasa kehilangan. Apalagi penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kalau dihitung, amal kita akan terlihat sedikit jika dibanding dengan kesibukan rutin lain. Dengan usia tiga puluh tahun, misalnya. Selama itu, jika tiap hari seorang tidur delapan jam, ternyata ia sudah tidur selama 87.600 jam. Ini sama dengan 3.650 hari, atau selama sepuluh tahun. Dengan kata lain, selama tiga puluh tahun hidup, sepertiganya cuma habis buat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang itu menghabiskan empat jam buat nonton televisi, setidaknya, ia sudah menonton televisi selama 43.200 jam. Itu sama dengan 1.800 hari, atau lima tahun. Bayangkan, dari tiga puluh tahun hidup, lima tahun cuma habis buat nonton teve. Belum lagi urusan-urusan lain. Bisa ngobrol, curhat, ngerumpi, jalan-jalan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, berapa banyak porsi waktunya buat ibadah? Kalau satu salat wajib menghabiskan waktu sepuluh menit, satu hari ia salat selama lima puluh menit. Ditambah zikir dan tilawah selama tiga puluh menit, ia beribadah selama delapan puluh menit per hari. Jika dikurangi sepuluh tahun karena usia kanak-kanak, ia baru beribadah selama 1.600 jam. Atau, 1,8 persen dari waktu tidur. Atau, 3,7 persen dari lama nonton teve.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak peluang yang terbuang. Betapa banyak waktu berlalu tanpa nilai. Maha Benar Allah dalam firman-Nya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” (Al-Ashr: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun tahu, kapan waktunya berakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap yang bernyawa pasti mati. Termasuk, manusia. Kalau dirata-rata, usia manusia saat ini tidak lebih dari enam puluhan tahun. Atau, setara dengan dua belas kali pemilu di Indonesia. Waktu yang begitu sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya buat orang-orang beriman memaknai waktu. Biarlah orang mengatakan waktu adalah uang. Orang beriman akan bilang, “Waktu adalah pahala!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Nuh&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-7197809329911852209?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/7197809329911852209'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/7197809329911852209'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/09/jual-waktu-dengan-pahala.html' title='Jual Waktu dengan Pahala'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-7542959073433839897</id><published>2008-09-04T13:18:00.000+07:00</published><updated>2008-09-04T13:18:00.387+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='p#'/><title type='text'>Pemimpin Dakwah Teladan</title><content type='html'>“ad-da’watu satamsyi binaa au bighoirina“, dakwah akan berjalan dengan kita atau tanpa kita. Dakwah merupakan jalan para nabi dan para rasul. Karenanya, akan terus mengalir dan berjalan sampai Islam tegak dan berkuasa di bumi Allah. Dan orang-orang yang terus berjalan bersama dakwah dan istiqamah menyampaikan Islam adalah orang-orang yang mulia. Mereka itu para dai yang mendapatkan petunjuk Allah dan karunia yang besar. Mereka itulah para qiyadah (pemimpin) dakwah dan mereka itulah yang memberikan keteladanan dalam dakwah. Sebaliknya, mereka yang berhenti dari jalan dakwah, tertipu olah gemerlapnya dunia, tidak berhak menyandang gelar sebagai dai, apalagi qiyadah dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala bentuk keteladanan dalam kebaikan bermuara pada contoh yang dilakukan oleh Rasulullah. ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keteladan yang dicontohkan Rasulullah, umat Islam menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Dan puncak kebaikan umat ini apa pada tiga kurun generasi pertama, yaitu generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Rasulullah bersabda,“ Sebaik-baiknya abad adalah abadku, kemudian abad berikutnya, kemudian abad berikutnya.” (Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada setiap masa Allah akan membangkitkan pada umat ini orang atau generasi yang akan membangkitkan dan memperbaharui semangat ke-Islaman. “Sesungguhnya Allah akan mengutus pada umat ini pada setiap satu abad orang yang memperbarui urusan agamanya.” (Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama menyebutkan di antara mujadid (pembaharu) umat yang hadir setiap satu abad, yaitu Umar bin Abdul Aziz, Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah, dan Hasan Al-Banna. Untuk lebih mengenal sosok para qiyadah yang memberikan qudwah pada umat, maka di bawah ini sebagian biografi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Umar bin Abdul Aziz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz disebut para ulama sebagai khulafa’ur rasyidin ke-5, karena kesamaan manhaj kepemimpinan beliau dengan empat khalifah pertama penerus Rasulullah saw. Nama lengkapnya Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz Marwan bin Al-Hakam. Ia seorang pemimpin dari generasi tabi’in. Lahir di Halwan Mesir tahun 61 H. Dibai’at menjadi khalifah pada saat wafat saudara sepupunya, Sulaiman bin Abdul Malik, pada tahun 91 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dibai’at Umar bin Abdul Aziz berpidato. ”Wahai manusia, sesungguhnya tidak ada kitab sesudah Al-Qur’an dan tidak ada nabi sesudah Muhammad saw. Saya bukanlah qadhi (hakim), tetapi saya adalah pelaksana. Saya bukanlah tukang bid’ah, tetapi pengikut setia. Dan saya bukanlah yang terbaik di antara kalian, tetapi saya adalah yang paling berat tanggung jawabnya di antara kalian. Orang yang lari dari imam yang zhalim, bukanlah kezhaliman. Ingatlah, tidak ada ketaatan pada makhluk dalam kemaksiatan pada Khalik,” begitu sebagian isi pidatonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang sangat wara’, zuhud, bersih, dan peduli pada umat. Istrinya menceritakan bahwa pada suatu hari sedang di kamar tidur dan ingat tentang akhirat, beliau gemetar seperti burung dalam air, duduk, dan menangis. Sedangkan perhatiannya kepada umat sangat besar. Ketika akan istirahat siang sejenak karena capai melaksanakan tugas, anaknya memberi nasihat, ”Apakah Ayah menjamin umur ayah akan panjang sesudah istirahat sehingga menunda banyak urusan yang harus diselesaikan?” Umar bin Abdul Aziz tidak jadi istirahat dan langsung meneruskan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah hanya dua tahun lebih. Tetapi pada masa itu sangat banyak kesuksesan yang beliau lakukan. Beliau yang menghapuskan caci-maki terhadap Imam Ali dan keluarganya yang dilakukan khatib saat khutbah Jum’at dan mengganti dengan membaca surat An-Nahl ayat 90. Sampai sekarang khutbah Jum’at membaca ayat itu mengikuti sunnah yang baik dari Umar bin Abdul Aziz. Beliau juga menolak Nepotisme dari keluarganya, Bani Umayyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah ilmu dan kekhusyu’an, Umar bin Abdul Aziz adalah termasuk ulama panutan. Berkata Maimun bin Mahran, ”Para ulama di hadapan Umar bin Abdul Aziz menjadi murid. Beliau adalah gurunya para ulama.” Di masa beliaulah penulisan hadits-hadits Rasululah saw. dilakukan sehingga berkembanglah tadwin hadits dan penulisan buku hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ibadahnya sangat menyerupai Rasululah saw. Anas bin Malik r.a. berkata, ”Saya tidak shalat berjamaah bersama imam yang lebih menyerupai shalatnya Rasulullah daripada shalat bersama pemuda ini (Umar bin Abdul Aziz) ketika beliau di Madinah.” Anas meneruskan, ”Beliau menyempurnakan ruku’ dan sujud, dan memendekkan berdiri dan baca Al-Qur’an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Imam Ahmad bin Hanbal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang mengenal bahwa imam Ahmad bin Hanbal adalah ulama ahli hadits dan fiqh. Memang beliau adalah ahli hadits. Kitabnya yang terkenal bernama Musnad Imam Ahmad. Imam Ahmad disamping hafal Al-Qur’an semenjak kecil, beliau juga hafal banyak hadits. Kitabnya, Musnad Imam Ahmad, terdiri sekitar 40.000 hadits yang ditulis berdasarkan hafalannya. Beliau hafal satu juta hadits dan menghafalnya seperti hafal Al-Fatihah. Beliau berfatwa 60.000 masalah dengan menggunakan firman Allah dan sabda Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad juga ahli fiqh. Bahkan, termasuk salah satu dari empat ulama besar yang menjadi rujukan dalam bidang fiqh (madzhab arba’ah). Imam Ahmad belajar fiqh kepada Imam Asy-Syafi’i. Tentang keutamaan Imam Ahmad, gurunya imam Asy-Syafi’i mengatakan, ”Saya keluar dari Baghdad, demi Allah saya tidak meninggalkan seseorang yang lebih bertakwa pada Allah, lebih ‘alim tentang ajaran Allah, lebih zuhud karena Allah, lebih wara’ dari yang diharamkan Allah, dan yang paling saya cintai melebihi Imam Ahmad bin Hanbal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian yang menimpa Imam Ahmad sungguh sangat besar, yaitu ujian dan fitnah penciptaan Al-Qur’an. Fitnah tentang penciptaan Al-Qur’an –yaitu pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk– muncul pertama kali pada masa Al-Ma’mun. Pendapat ini berasal dan diyakini oleh penganut paham Mu’tazilah, dimana Raja Al-Ma’mun merasa kagum dengan pendapat ini dan mengikutinya. Lebih dari itu Al-Ma’mun menggunakan pedangnya untuk memaksa rakyat mengikuti pendapatnya, dan yang menolak akan dibunuh. Al-Ma’mun membunuh sekitar 1.000 ulama yang menolak mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Dan penjara penuh dengan para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad berada di barisan paling depan yang menolak bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Dan konsekuensinya imam Ahmad dipanggil ke istana. Imam Ahmad berkata, ”Saya diambil tengah malam pada saat saya shalat. Tangan dan kaki saya diborgol, dan berat borgol itu melebihi berat badan saya. Saya dinaikkan di atas kuda, saya berusaha pegangan tetapi saya tidak bisa. Saya hampir jatuh tiga kali, tetapi setiap mau jatuh saya membaca; Ya Allah peliharalah aku. Maka Allah menjaga saya sehingga tidak jatuh. Tatkala saya dimasukkan ke dalam penjara, muka saya diseret. Saya sampai di penjara di akhir malam. Saya tidak tahu di mana letak kiblat dan saya tidak tahu di mana saya waktu itu. Ketika saya menjulurkan tangan, tiba-tiba ada air yang sejuk, maka saya berwudhu dan shalat Fajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pagi saya dibawa dengan kuda untuk kedua kalinya, dan saya belum makan. Hampir saja saya jatuh karena sangat laparnya. Saya dimasukkan ke tempat Mu’tashim. Tatkala saya masuk ia mencabut pedang, ditempelkan ke leherku dan berkata, “Wahai Ahmad, demi Allah saya mencintaimu seperti saya mencintai anaknya Harun Al-Rasyid (Al-Ma’mun). Maka janganlah engkau tumpahkan darahmu di hadapanku.” Kemudian ia memaksa kepadaku agar mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk. Imam Ahmad menolak, maka Mu’tasim menyuruh tukang pukulnya untuk memukul Imam Ahmad. Imam Ahmad dicambuk 160 kali, sampai beliau pingsan. Kemudian beliau siuman kembali.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad dipaksa lagi untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, tetapi beliau tetap menolak, sehingga dicambuk lagi berulang-ulang kali. Sampai punggungnya babak belur karena seringnya dicambuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad kembali dinaikkan ke atas kuda dan dimasukkan ke dalam penjara. Beliau dipenjara selama 28 bulan. Selama di penjara beliau selalu berpuasa dan makanan untuk berbuka cuma roti dan air. Itulah yang dimakan Imam Ahmad selama 28 bulan. Dan terakhir Imam Ahmad dipaksa lagi untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, beliau tetap menolak. Sampai akhirnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan bosan, kemudian mengembalikan Imam Ahmad ke rumahnya dengan keadaan luka parah. Berkata putranya, Abdullah, ”Ayah kami pulang kembali ke rumah malam hari setelah di penjara, dan langsung jatuh sakit karena luka parah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan bergantilah kekuasaan dari Mu’tashim kepada Al-Mutawwakil. Mutawwakil adalah pemimpin yang menycintai kebenaran dan sunnah. Dan suatu hari Al-Mutawwakil datang ke Imam Ahmad membawa harta kekayaan dan emas. Maka menangislah Imam Ahmad dan berkata, ”Demi Allah, saya lebih takut akan fitnah kenikmatan melebihi takut saya dari fitnah musibah.” Dan Imam Ahmad menolak semua itu. Begitulah Imam Ahmad. Beliau sakit selama 9 hari kemudian meninggal. Manusia berduyun-duyun bertakziyah mendoakan Imam Ahmad. Yang datang takziyah sekitar 800.000 orang lelaki dan 60.000 perempuan. Dan pada saat beliau meninggal, masuk Islam orang-orang Yahudi, Kristen, dan Majusi sekitar 20.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya adalah Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy. Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arab yang terletak antara sungai Dajlah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinya. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda. Mereka hijrah tanpa seekor binatang tunggangan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama. Jadi, punya kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 22 tahun, Ibnu Taimiyah sudah mengajar di perguruan Darul Hadits Al-Syukriyyah, sekolah ternama yang hanya mau menerima tenaga pengajar pilihan. Meski masih tergolong muda, kecerdasannya mampu membuat guru-guru besar sekolah itu geleng-geleng kepala. “Sungguh, siapapun mengakui kebrilianan guru saya yang usianya masih sangat muda itu,” ujar Ibnu Katsir, salah seorang siswa yang akhirnya juga menjadi ulama ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluasan ilmu Ibnu Taimiyah juga terlihat dalam penguasaannya terhadap fiqh, hadits, ushul, fara’id, tafsir, mantiq, kaligrafi, hisab, bahkan olahraga. Penguasaan nahwu sharafnya juga luar biasa. Namun ilmu tafsir adalah disiplin ilmu yang paling digandrunginya. Bila sudah berkutat dengan tafsir, beliau tampak asyik sekali. Lebih dari seratus kitab Tafsir Al-Qur’an dipelajarinya. Tak heran bila mengkaji satu ayat saja, dia akan menelaah puluhan tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengkaji tafsir, Ibnu Taimiyah tidak sekadar mengandalkan kecerdasan akal. Tapi juga kecerdasan spiritual. Dia akan selalu memohon kepada Allah swt. agar diberi kepahaman, pergi ke masjid dan bersujud. Wajar bila para pemikir yang hanya mengandalkan kemampuan akal, tanpa spiritual, senantiasa dikecamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para filosof Yunani juga menjadi sasaran tembaknya. Termasuk pemikir Islam yang bertaklid buta kepada filsafat Yunani, seperti Ibnu Sina. Sebab, menurut Ibnu Taimiyah, filsafat Yunani tak mampu menemukan rahasia ketuhanan. “Mereka adalah sebodoh-bodoh dan sejauh-jauh manusia dalam mengetahui hal-hal yang benar. Komentar Aristoteles, guru mereka, masih terlalu sedikit dan banyak kesalahan. Para filosof telah tertipu dalam mengetahui dan mengenal Allah swt.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah termasuk sedikit di antara ulama yang istiqamah memegang prinsip. Akibat keteguhannya itu, ia harus keluar masuk tahanan. Sampai akhir hayatnya ia tetap dalam posisinya seperti itu. Berkali-kali ia diisolir, berkali-kali diintimidasi, tapi ia tak goyah untuk mempertahankan pendiriannya yang diyakini kebenarannya. Tak sejengkalpun ia mundur. Dari lisan Ibnu Taimiyah akhirnya muncul kata-kata mutiara: “Penjaraku adalah berkhalwat, pembuanganku adalah tempat hijrahku, dan pembunuhanku adalah syahid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang bisa menandai seorang ulama adalah kemampuannya dalam mengendalikan hawa nafsu. Akan tetapi dalam kenyataannya masih banyak dijumpai ulama yang mengumbar hawa nafsunya. Akibatnya, jika mereka berfatwa, fatwanya cenderung mengikuti hawa nafsu. Baik itu hawa nafsunya sendiri, maupun hawa nafsu orang lain. Hawa nafsu orang lain yang paling banyak mempengaruhi ulama dalam sejarah adalah hawa nafsu para penguasa yang diharapkan hadiah-hadiah dan ditakuti ancaman tindakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah adalah salah seorang ulama yang langka. Dalam mempertahankan keyakinannya, banyak pihak yang kagum. Namun demikian yang benci juga banyak. Sewaktu Ibnu Taimiyah menolak keras paham wihdatul wujud yang diusung Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi, banyak yang marah besar. Pada 5 Ramadhan 705 H, datanglah surat panggilan dari penguasa Mesir dan Syam, Sultan An-Nashir Muhammad bin Qulaun. Rupanya ini hanyalah jebakan para pengikut Ibnu Arabi. Buktinya, Ibnu Taimiyah ditangkap dan dimasukkan ke dalam tahanan selepas ceramah di sebuah majelis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian ada tanda-tanda hendak dibebaskan. Syaratnya, Ibnu Taimiyah harus mencabut sikap kontranya terhadap paham akidah penguasa Mesir. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. “Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka,” begitu jawaban Ibnu Taimiyah mengutip ayat 33 surat Yusuf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dipenjara, Ibnu Taimiyah tetap beraktivitas sebagaimana biasa. Ketegaran pribadinya mendorong terus beramar ma’ruf nahi munkar. Sewaktu para narapidana sibuk bermain catur, undian, judi, dan lain-lain sehingga melalaikan shalat, Ibnu Taimiyah tak segan-segan menegurnya. Dia perintahkan secara tegas agar mereka menjaga shalat, senantiasa bertasbih, istighfar, dan berdoa. Berbagai amalan ibadah diajarkan, sehingga para penghuni penjara itu larut dalam kegiatan agama. Bahkan banyak narapidana yang sebenarnya sudah bebas tapi memilih tetap tinggal bersama Ibnu Taimiyah. Akhirnya pada 23 Rabi’ul Awwal 707 H dia bebas berkat pertolongan seorang pejabat Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu bebas, Ibnu Taimiyah bukannya kembali ke Damaskus tetapi memilih tinggal di Mesir yang banyak dihuni orang-orang yang memusuhinya. Dia tetap aktif mengajar, memberikan nasihat, ceramah, dan membentuk majelis-majelis. Tidak lama kemudian beberapa sekolah di Kairo rutin memberi kesempatan ceramah, di antaranya Madrasah Ash-Shalihiyyah. Dari situlah kalangan ulama Mesir mulai terbuka matanya, bahwa ternyata Ibnu Taimiyah tidak sesat seperti mereka duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang bersamaan, orang-orang yang dengki terus berupaya memasang perangkap. Celakanya, pemerintah Mesir termakan agitasi itu. Ibnu Taimiyah diberi ultimatum: kembali ke Damaskus, tetap tinggal di Mesir dengan syarat tidak mendakwahkan ajarannya kepada masyarakat, atau dipenjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata pilihan ketiga yang dipilihnya: penjara. Namun murid-muridnya menghalangi, dan menyarankan agar Ibnu Taimiyah kembali ke Damaskus. Demi menjaga hati pengikutnya, pada 18 Syawal 770 H Ibnu Taimiyah kembali ke Damaskus. Namun sebentar saja, cuma beberapa jam di Damaskus. Penjara lebih ‘dirindukannya’. Meski begitu Ibnu Taimiyah tidak bisa serta merta masuk penjara sebab rupanya kalangan qadhi dan ulama Mesir berselisih pendapat tentang penahanan itu. Alasan memenjaranya tidak jelas. Melihat pertentangan pendapat itu, Ibnu Taimiyah akhirnya mengambil keputusan sendiri: masuk penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski di penjara, Ibnu Taimiyah tetap dinanti-nanti fatwa dan nasihatnya. Berbondong-bondong orang menjenguknya. Pemandangan yang sungguh ganjil, sehingga akhirnya Ibnu Taimiyah dibebaskan. Murid-muridnya di Madrasah Ash-Shalihiyyah dan beberapa majelis kajian dapat kembali mendengar ceramah-ceramahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian terjadi pergeseran konstalasi politik di Mesir. Sultan An-Nashir Muhammad bin Qulaun yang mulai simpati kepada Ibnu Taimiyah turun takhta, diganti Ruknuddin Bibrus Al-Jasynaker. Sementara Syaikh Nashr Al-Munbajji Al-Murabbi Ar-Ruhi ulama yang berlawanan akidah dengan Ibnu Taimiyah menjadi penasihat raja. Lahirlah keputusan-keputusan politik yang memojokkan ulama yang berseberangan dengan ‘ulamanya’ penguasa. Ibnu Taimiyah pun dibuang ke Iskandariyyah (akhir Shafar 709 H) dengan dalih menghindarkan Mesir dari disintegrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat barunya, Ibnu Taimiyah tetap kebanjiran pengikut. Rumahnya di Iskandariyyah yang luas, bersih, dan indah terbuka 24 jam untuk siapa saja. Banyak kalangan pembesar maupun fuqaha yang datang meminta nasihat spiritual kepadanya. Sultan An-Nashir Muhammad bin Qulaun yang akhirnya kembali memimpin Mesir dan Syam (akhir 709 H), berkenan mengangkat Ibnu Taimiyah sebagai penasihat spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhir tahun 726 H, Ibnu Taimiyah berkonsentrasi pada pendidikan, menulis, ceramah-ceramah, dan mengeluarkan fatwa. Fatwa yang cukup terkenal adalah larangannya menziarahi kubur, termasuk kubur Rasulullah saw. Ibnu Taimiyah bersandar pada sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim, “Allah melaknati orang-orang Yahudi dan Nashara yang menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang saja banyak kalangan merasa gelisah, sebab Rasulullah saw. adalah manusia suci yang selama ini diagungkan. Banyak ulama yang menganggap fatwa itu ‘tidak sopan’ dilihat dari segi kedudukan Nabi saw. Akhirnya pemerintah turun tangan, mengeluarkan surat perintah penangkapan atas diri Ibnu Taimiyah (7 Sya’ban 726 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun rupanya pemenjaraan yang ketiga kali itu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu yang selama ini telah membencinya. Murid dan pendukung Ibnu Taimiyah dianiaya. Beberapa di antaranya dimasukkan penjara, ada juga yang dinaikkan di atas keledai lalu diarak beramai-ramai dan dimaki-maki. Bahkan Syamsuddin Muhammad bin Qayyim Al-Jauziyyah yang paling getol membela Ibnu Taimiyah dipenjara seumur hidup dan meninggal di penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sebelumnya, penjara tak menghalangi Ibnu Taimiyah terus berkarya. Tentu ini mengkhawatirkan pihak penguasa. Tanggal 9 Jumadil Akhir 728 H, pemerintah merampas semua alat baca dan tulis di penjara. Hebatnya, Ibnu Taimiyah terus menulis dengan memanfaatkan kertas-kertas sampah dan arang sebagai alat tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang tak bisa dilawannya, kondisi fisik yang digerogoti usia. Dia akhirnya jatuh sakit. Berita itu segera tersebar keluar penjara sehingga beberapa pejabat datang menjenguknya seraya minta maaf atas pemenjaraan itu. Terhadap mereka, dengan arif ia berkata, “Sungguh aku telah menghalalkan orang-orang yang memusuhiku karena mereka tidak tahu bahwa aku dalam kebenaran. Aku juga memaafkan Sultan An-Nashir yang memenjarakanku. Pendeknya, aku telah memaafkan semua orang yang memusuhiku, kecuali orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam 22 Dzulqa’idah 728 H, ulama ini meninggal dunia. Penduduk negeri Mesir dan Syam gempar. Sewaktu jenazah Ibnu Taimiyah dimandikan, orang berdesak-desakan ingin melihat dan menghormatinya. Sewaktu dishalatkan di Masjid Jami’ Al-Amawi, warga semakin banyak. Pasar kosong. Toko dan warung-warung tutup. Banyak di antara mereka yang lupa makan dan minum. Kumpulan manusia itu menimbulkan bergemuruh. Ada yang menangis, meratap, memuji, dan mendoakannya. Orang yang memikul keranda Ibnu Taimiyah kesulitan bergerak, hanya bisa bergeser sejengkal demi sejengkal, itupun maju mundur. Sebelum Ashar, jenazah itu dikebumikan di kubur Ash-Shufiyyah. Di kuburan itu sebelumnya telah dimakamkan beberapa ulama seperti Ibnu Asakir, Ibnu Shalah, Ibnul Hujjah, dan Imaduddin bin Katsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belahan bumi lain, kaum muslimin seantero dunia melaksanakan shalat ghaib. Timur Tengah, Afrika, sampai Yaman dan Cina, semua larut dalam keharuan atas meninggalnya Ibnu Taimiyah. Meski jasadnya telah tiada, pemikirannya telah hidup sampai saat ini. Al-Hafizh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu Abdul Hadi, Ibnu Katsir, dan Al-Hafizh Ibnu Rajab adalah di antara murid-murid yang terus berupaya menghidupkan semangat perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hasan Al-Banna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Hasan Al Banna adalah imam para dai di abad 20, sesuai dengan namanya beliau adalah pembangun generasi yang baik. Imam Hasan bin Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna lahir pada tahun 1906 M di daerah Mahmudiyah kota kecil dekat Iskandariyah Mesir. Ayahnya seorang ulama yang diakui keilmuannya oleh ulama lain. Disamping itu beliau bekerja sebagai tukang reparasi jam dan penjilidan buku sehingga ayahnya dikenal dengan julukan Asy-Syaikh As-Sa’ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk suasana kota turut membantu perkembangan Hasan Al Banna. Sehingga dalam usia yang masih muda beliau sudah berhasil menghafal Al-Qur’an. Beliau disamping berguru pada ayahnya juga berguru pada ulama lain, sampai akhirnya mengantarkan beliau belajar di Universitas Darul Ulum Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ghirah keislamannya sudah tumbuh semenjak kecil. Beliau sangat rajin ibadah dan suka mengunjungi para ulama untuk berdiskusi tentang masalah agama dan problematika umat. Sehingga tidak aneh para ulama dan gurunya sangat mencintai beliau dan menaruh harapan yang besar terhadap Hasan Al-Banna. Kegundahannya terhadap kemaksiatan menyebabkan Hasan Al-Banna kecil bersama teman-temannya membuat organisasi Menolak Keharaman. Dan diantara aktivitasnya, mengingatkan umat Islam yang melakukan dosa dan meninggalkan kewajiban Islam seperti shalat, puasa, dan lain-lain. Hasan Al-Banna juga punya kegiatan yang dilakukannya ketika masih kecil, yaitu membangun-bangunkan orang tidur dari rumah ke rumah untuk shalat Subuh berjamaah di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1928 pada saat berusia 22 tahun, beliau mendirikan Jama’ah Ikhwanul Muslimun. Tokoh-tokoh yang bergabung di jama’ah ini di antaranya Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib, ulama hadits; Syaikh Dr. Musthafa As-Siba’i, ahli hukum; Syaikh Amin Al-Husaini, mufti Palestina. Dan sekarang dakwah yang dirintisnya sudah masuk ke lebih dari 70 negara. Hampir tidak ada gerakan reformasi di dunia Islam yang tidak terpengaruh oleh pemikiran Jama’ah Ikhwanul Muslimun. Kelebihan Imam Hasan Al-Banna bukan pada kemampuannya ta’liful kutub (mengarang buku), tetapi pada ta’liful qulub (menyatukan hati) dan ta’lifur rijal (mencetak generasi muslim). Tidak aneh jika pengikutnya hampir ada di seluruh penjuru dunia. Penamaan Jama’ah Ikhwanul Muslimun juga tidak lain dari keinginan beliau untuk menyatukan umat Islam dan mengembalikan mereka dalam kejayaan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata ulama India Abul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi tentang imam Hasan Al Banna, ”Kehadirannya cukup mengejutkan Mesir, dunia Arab dan dunia Islam secara keseluruhan. Semua terkejut oleh dakwah, tarbiyah, jihad dan kekuatannya yang unik. Allah telah mengumpulkan pada dirinya berbagai kemampuan yang kadang-kadang tampak kontradiktif di mata psikolog, sejarawan, dan kritikus, yaitu pemikiran yang brilian, pemahaman yang cemerlang, wawasan yang luas, perasaan yang kuat, hati yang penuh berkah, semangat yang membara, lisan yang fasih, zuhud dan qanaah –tanpa menyiksa diri– dalam kehidupan pribadinya. Cita-cita dan kepedulian yang tinggi dalam menyebarkan da’wah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian Hasan Al Banna terhadap Islam dan umat Islam sangat besar termasuk umat Islam yang jauh dari Mesir, seperti Indonesia. Hal ini yang menjadikan beliau memimpin sendiri Komite Solidaritas bagi Kemerdekaan Indonesia. Dan utusan Indonesia yang berkunjung ke Mesir saat itu, yaitu H. Agus Salim, Dr. H.M. Rasyidi, M. Zein Hasan dan lain-lain, mengucapkan terima kasih kepada Hasan Al-Banna atas dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Hasan Al Banna berpesan kepada pengikut-pengikutnya, ”Anda sekalian adalah ruh baru yang mengalir dalam jasad umat ini.” Dakwah dan jihad Hasan Al-Banna membuat kecut thaghut (penguasa yang lalim) yang hidup pada masa beliau. Tidak ada cara lain kecuali memusnahkan dakwah Hasan Al Banna. Tepat di depan kantor Organisasi Pemuda Islam yang didirikannya, Hasan-Al Banna ditembak. Sebagian pelaku membawa Hasan Al-Banna ke rumah sakit dan meminta kepada penjaga rumah sakit untuk membiarkannya tanpa penanganan medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai setelah dua jam tanpa pertolongan medis, Hasal Al-Banna meninggal dunia. Tahun itu tahun 1949 M. Hasan Al-Banna dishalatkan oleh ayahnya yang sudah sepuh dan 4 orang wanita. Begitulah Hasan Al-Banna yang hidup untuk Islam dan umat Islam. Meninggal akibat konspirasi yang menginginkan dakwahnya redup. Tetapi kematiannya tidak membuatnya mati. Dakwahnya tetap hidup dan namanya tetap harum. Pendukung gerakan dakwahnya semakin banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Allah akan menjaga agama-Nya. Dia selalu mengutus pada setiap abad ulama yang akan mengembalikan Islam pada kemurnian dan kejayaannya. Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengutus pada umat ini pada setiap satu abad orang yang memperbarui urusan agamanya.” (Abu Dawud, Al-Hakim dan Al-Baihaqi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Mochamad Bugi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-7542959073433839897?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/7542959073433839897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/7542959073433839897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/09/pemimpin-dakwah-teladan.html' title='Pemimpin Dakwah Teladan'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-2194236018074600572</id><published>2008-09-02T00:56:00.000+07:00</published><updated>2008-09-02T00:56:00.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M#'/><title type='text'>Menagambil Pendapat Setiap Mazhab</title><content type='html'>Bismillah Ar Rahman Ar Rahim&lt;br /&gt;Ini merupakan pertanyaan yagn saya dapatkan dalam sebuah forum, yang insyaallah dapat menjawab semua pelik dari semua masalah perbedaan dalam ber talfiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertanyaan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;assalmualikum pak ustad , saya ingin bertanya pada bapak apakah boleh mengambil pendapat setiap mazhab dalam fiqh karena setiap pendapat itu adalah pendapat seorang mujtahid yang diakui oleh seluruh umat islam . misalnya saya ini bermazhab syafi'i yang mengatakan bahwa memegang kemaluan itu bisa merusak wudhu' tapi mazhab hanafi mengatakan tidak apa2 apakah boleh saya memakai mazhab hanafi pada hal ini . dan kalau boleh tolong di jelaskan maaalsah talfiq itu . terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mazano&lt;br /&gt;______________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu `alaikum Wr. Wb.&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim,&lt;br /&gt;Alhamdulillahi Rabbil `Alamin. Wash-shalatu Was-Salamu `alaa Sayyidil Mursalin. Wa ba`d, Para ahli ushul berbeda pendapat tentang apakah yang seharusnya dilakukan dalam memilih mazhab, harus berpegang teguh pada satu mazhab saja ataukah boleh berpindah-pindah ? &lt;br /&gt;Pendapat :&lt;br /&gt;1. Wajib berpegang pada satu mazhab saja. &lt;br /&gt;Pendapat mereka berangkat dari pemikiran bahwa imam mazhab telah memiliki metodologi tersendiri dalam membangun mazhab. Dan semua pendapatnya itu berangkat dari metodologi yang telah disusunnya, bukan sekedar pendapat yang bermunculan secara tiba-tiba. Dengan demikian maka pendapat-pendapat yang bersumber dari satu mazhab tertentu lahir dari sebuah proses yang teratur dan memiliki pola istimbath yang konsisten.&lt;br /&gt;Sehingga bila berpindah-pindah mazhab akan mengakibatkan ketidak-konsistenan dalam metodologi. Menurut pendukung pendapat ini, seseorang harus konsisten dalam metodologi mazhab. Memang ada sebagian kecil dari kalangan ulama yang memandang bahwa mengikuti mazhab tertentu dalam masalah fiqih hukumnya wajib. Alasannya adalah bahwa bila seseorang meyakini bahwa imam mazhabnya itu benar, wajiblah untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;Namun pandangan ini hanya pandangan yang kurang populer. Sedangkan jumhur fuqoha dan kebanyakan para ulama memandang bahwa bertaqlid kepada imam tertentu dan bermazhab pada satu mazhab saja bukan merupakan kewajiban. Tapi hukumnya boleh untuk bertaqlid kepada imam yang dia meresa tsiqah / percaya atas ilmu dan pandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka seseorang dibenarkan untuk bermazhab dengan mazhab tertentu seperti Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi`iyyah, Al-Hanabilah dan mazhab fiqih lainnya. Tetapi tidak berarti dia harus terpaku pada pendapat dalam mazhab itu saja. Hal ini karena memang tidak ada perintah dari Allah SWT SWT maupun Rasul-Nya yang mewajibkan untuk bertaqlid kepada satu imam saja. Yang ada justru perintah untuk bertanya kepada ahli ilmu secara umum, yaitu mereka yang memang memiliki kemapuan pemahaman syariat Islam, tetapi tidak harus terpaku pada satu orang atau mazhab saja. Allah SWT SWT berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An-Nahl : 43)&lt;br /&gt;”Kami tiada mengutus rasul rasul sebelum kamu , melainkan beberapa orang-laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya` : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para shahabat Rasulullah SAW dahulu dan juga para tabi`in pun tidak tepaku pada satu pendapat saja dari ulama mereka. Mereka akan bertanya kepada siapa saja yang memang layak untuk memberi fatwa dan memiliki ilmu tentang hal tersebut. Selain itu terpaku pada satu mazhab saja justru merupakan kelemahan dan kesempitan, padahal fenoma banyak mazhab itu sendiri adalah kenikmatan, keutamaan dan rahmat dari Allah SWT SWT.&lt;br /&gt;2. Tidak wajib untuk bertaqlid kepada satu mazhab sana.&lt;br /&gt;Menurut para pendukung pendapat ini, seseorang boleh mengikuti pendapat yang berbeda dari beragam mazhab. Karena tidak ada perintah untuk berpegang tegus kepada satu orang mujtahid saja. Ketika seseorang bermazhab tertentu seperti Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi`iyyah atau pun Al-anabilah, maka pada suautu masalah tertentu boleh saja dia tidak sepakat dengan pendapat mazhabnya. Hal seperti itu lazim terjadi dan sama sekali tidak ada larangan. Allah SWT sendiri tidak pernah mewajibkan seseorang untuk betaqlid pada mujtahid tertentu. Kalaupun ada perintah, maka Allah SWT memerintahkan seseorang untuk bertanya kepada ahli ilmu secara umum. Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka bertanyalah kepada ahli ilmu bila kamu tidak mengerti” (QS. Al-Anbiya` : 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu berpegang hanya pada satu mazhab saja tanpa dibolehkan melihat kepada mazhab lainnya merupakan sebuah kesempitan dan kesuilitan. Padahal adanya mazhab sebenarnya merupakan rahmat dan nikmat.&lt;br /&gt;Apalagi di zaman yang semakin berkembang ini dimana bisa saja pandangan dari suatu mazhab menjadi kurang tepat untuk diterapkan lagi, sedangkan pandangan dari mazhab lain yang dulu kurang populer justru lebih terasa mengena di zaman ini. Karena itulah maka pendapat kedua ini nampaknya lebih tepat dan juga pendapat inilah yang disepakati oleh jumhur ulama.&lt;br /&gt;Lalu ada sekelompok orang yang berpindah-pindah mazhab, baik karena mencari yang paling mudah dari semua fatwa atau memang karena dia tidak tahu mazhab siapakah ini. Para ulama memberikan pandangan dalam fenomena ini dalam beberapa point :&lt;br /&gt;a. Ashabus Syafi`I, Asy-syairazi, Al-Khathib Al-Baghdadi, Ibnu Shibagh, Al-Baqillany dan Al-Amidy mengatakan bahwa seseorang berhak untuk memilih mana saja dari pendapat para ulama mazhab, termasuk mencari yang mudah-mudahnya saja. Dasarnya adalah ijma` para shahabat yang tidak mengingkari seseorang mengambil pendapat yang marjuh sementara ada pendapat yang lebih rajih. Dan sebaliknya, justru Rasulullah SAW selalu memilih yang termudah dari pilihan yang ada. Dalam hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah ra bahwa ”Rasulullah SAW sangat menyukai apa-apa yang termudah buat umatnya”. (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Bahwa Rasulullah SAW tidak pernah didudukkan pada dua pilihan kecuali beliau selalu memilih pilihan yang paling mudah, selama tidak berdosa. (H.R. Al-Bukhari , Malik dan At-Tirmizy)&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, ”Aku diutus dengan agama yang hanif dan toleran”. (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ahluz Zahir mengatakan bahwa seseorang wajib mengambil pendapat yang paling berat dan paling sulit.&lt;br /&gt;c. Kalangan Al-Malikiyah dan Al-Ghazali serta Al-Hanabilah mengatakan bahwa tidak boleh seseorang berpindah-pindah mazhab hanya sekedar mengikuti hawa nafsu dan mencari yang paling ringan saja. Karena syariat melarang seseorang mengikuti hawa nafsunya saja. Allah SWT SWT berfirman :&lt;br /&gt;”Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah SWT dan ta'atilah Rasul , dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah SWT dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah SWT dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa : 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A`lam Bish-shawab,&lt;br /&gt;Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-2194236018074600572?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/2194236018074600572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/2194236018074600572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/09/menagambil-pendapat-setiap-mazhab.html' title='Menagambil Pendapat Setiap Mazhab'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-2286048344100697668</id><published>2008-08-30T12:52:00.000+07:00</published><updated>2008-08-30T12:52:00.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='b#'/><title type='text'>Bisnisman Yang Tak Disukai Mitra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nArTwPaJB-I/SJ04VDuggYI/AAAAAAAAAWA/sYLrW705nJg/s1600-h/bisnisman.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nArTwPaJB-I/SJ04VDuggYI/AAAAAAAAAWA/sYLrW705nJg/s320/bisnisman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5232400276503167362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada bisniman yang ingin rugi. Semua bisnisman berjuang untuk mencapai keuntungan. Tetapi ingat bahwa keuntungan yang harus dicapai harus melalui cara-cara yang baik. Bukan dengan cara-cara yang kejam dan menghancurkan kemanusiaan. Allah swt. Sang Pencipta sangat menjaga kelestarian ciptaan-Nya. Dan untuk itu Allah swt. menurunkan tuntunan hidup yang baik bagi manusia termasuk tuntunan dalam wilayah bisnis. Manusialah memang yang mendapatkan mandat untuk mengurus kehidupan di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus mengenai bisnis, ada minimal tiga belas sifat yang harus dihindari seorang bisnisman dalam menjalankan roda usahanya. Trutama sifat yang berkaitan langsung dengan mitra. Sebab bagaimanapun sukses seorang bisnisman sangat tergantung kepada kesetiaan mitranya. Bila diteliti secara mendalam semua sifat tersebut sangat tidak disukai oleh mitra, lebih dari itu sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pembohong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap bohong bukan ciri seorang beriman. Rasulullah saw. ketika ditanya apakah ada seorang yang beriman berbohong, kata Nabi tidak ada. Ini menunjukkan bahwa tindakan berbohong adalah bertentangan dengan keimanan. Dengan kata lain tidak terbayang seorang yang mengaku beriman kepada Allah dan yakin bahwa Allah mengetahui segala perbuatannya, ia berbohong. Dengan demikian ketika seseorang berbohong dalam transaksi bisnisnya berarti ia di saat yang sama telah melepaskan keimanannya kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, bahwa tidak ada manusia di dunia yang ingin dibohongi. Dengan demikian tindak kebohongan adalah bertentangan dengan fitrah manusia. Karena itu tidak seorang istri yang merasa aman di samping seorang suami pembohong. Tidak ada seorang anak yang merasa aman di tengah orang tua pembohong. Begitu juga tidak ada seorang pembeli yang merasa aman bertransaksi dengan seorang pembohong. Maka seorang pedagang berbohong ia telah merusak harga dirinya, lebih dari itu ia merusak masa depan bisnisnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi seorang beruntung sejenak dalam bisnisnya ketika membohongi orang. Tetapi setelah itu seumur hidup tidak akan ada orang yang percaya kepadanya. Maka dengan melakukan kebohongan dalam berbisnis, seseorang telah mengorbankan kelanjutan perniagaannya hanya demi keuntungan sesaat. Itulah mengapa Allah dan Rasul-Nya sangat benci terhadap perbuatan bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penipu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penipu cenderung menyembunyikan aib atau cacat barang dagangannya kepada para pembeli. Jika itu berupa makanan yang sudah expired, diam-diam ia mengubah tanggalnya. Tidak peduli apakah makanan itu bakal menimbulkan bahaya bagi pembeli, yang penting ia untung. Jika barang dagangan itu berupa barang, ia tidak memberitahukan kerusakan yang ada di dalamnya. Ia berusaha untuk menunjukkan bahwa barang itu masih baik. Banyak orang yang menjual kendaraan misalnya yang pernah tertabrak, lalu disembunyikan bekas tabrakannya. Bahkan ia memberitahukan kepada orang lain bahwa kendaraan itu masih asli, tanpa sedikitpun cacat. Tidak sedikit orang yang tertipu karenanya. Tidak sedikit orang yang merasa dirugikan karena tindakan semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun tidak mau ditipu. Rasulullah saw. pernah menegur seorang penjual di pasar yang melakukan penipuan. Allah swt. memgancam orang-orang yang menipu dalam timbangan. Allah berfirman: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifiin:1-3). Kata al muthaffifiin (orang-orang yang curang)di ambil dari kata thaffafa artinya mengambil sedikit. Ini menunjukkan bahwa segala bentuk penipuan sekalipun sedikit, ancamannya neraka. Allah swt. tidak ingin manusia main-main dalam hal ini. Sebab bagaimanapun ini menyangkut hak manusia, yang tidak bisa tidak harus dipenuhi. Bila ia tidak dipenuhi di dunia Allah tidak akan mengampuni sampai hak itu diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. pernah menceritakan contoh manusia yang bangkrut (al muflis), bahwa itu bukan orang yang tidak punya uang dan harta, melainkan dialah orang yang datang di hari Kiamat dengan pahala shalat dan puasanya, sementara ia selama di dunia sering bertindak dzalim dengan menipu dan mengambil hak orang lain, lalu dipanggillah kelak orang-orang yang didzalimi itu, untuk menangih. Karena ia tidak punya, maka diambillah pahala shalat dan puasanya sampai habis. Perhatikan betapa besar ancaman bagi para penipu dalam dagangannya. Ia pasti tidak akan berkah hidupnya di dunia karena tidak ada orang yang mempercayainya dan rugi di akhirat karena Allah swt. melaknatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelaku riba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. berfirman: wa ahallallhul bay’a wa harramar ribaa (Allah menghalalkan perdagangan dan mengharamkan riba) (QS. Al Baqarah: 275). Ayat ini menggambarkan bahwa sistem riba sering kali digunakan sebagai perdagangan, padahal itu bukan jalan untuk memperoleh penghasilan. Di dalam Islam masalah hutang piutang tidak termasuk bab bisnis melainkan bab tolong menolong. Karena itu tidak dibenarkan secara syariat mencari penghasilan dalam pinjam meminjam. Para pelaku riba dalam bisnis telah mencekik banyak orang yang membutuhkan bantuan. Allah swt. tidak ingin mereka yang lemah semakin tertindas karena sistem riba. Itulah rahasianya mengapa dengan tegas Allah swt. mengharamkan riba. Bahkan para pelaku riba dianggap oleh Allah swt. sebagai orang-orang yang dengan terang-terangan mengajak perang dengan-Nya. (lihat QS. Al Baqarah 279).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ini jelas bahaya riba dalam hidup manusia. Bahwa Allah swt. tidak ingin manusia menjadi hamba harta. Riba telah membuat banyak orang menjadi dzalim. Perhatikan, ketika seseorang pinjam uang ke bank untuk modal bisnis dengan jalan riba, tidak bisa tidak ia harus menaikkan harga dagangannya untuk bisa menutupi bunga yang harus ia bayar. Maka dengan menaikkan harga, banyak orang yang berekonomi lemah terjepit. Hancurnya ekonomi dunia saat ini seperti yang kita saksikan adalah karena terlalu merebaknya sistem riba. Akibatnya kemanusiaan harus menjadi korban. Kejahatan terjadi di mana-mana. Orang-orang semakin jauh dari Allah swt., karena yang dikonsumsi setiap hari barang haram dari hasil riba. Bila ini yang terjadi, Allah swt. pasti akan mencabut keberkahan sebuah negeri. Bila sebuah negeri tidak ada keberkahannya, manusia pasti akan terus menerus dilanda malapetaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. tidak ingin manusia menderita, berpecah belah, saling bermusuhan dan saling menghancurkan. Karenanya segala bentuk kedzaliman dalam segala dimensinya Allahswt. haramkan. Termasuk kedzaliman dalam dunia bisnis, seperti sistem riba yang hanya memenangkan para pemilik modal dan menghancurkan ekonomi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mempersulit Mitra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di halalkannya jual beli bukan untuk saling mempersulit melainkan untuk saling meringankan. Saya sering menemukan seorang pedagang yang tidak segera melayani pembeli. Akibatnya banyak waktu terbuang di depan toko hanya karena menunggu layanan, padahal seandainya segera dilayani ia bisa menyelesaikan pekerjaan lainnya. Perhatikan betapa pedagang yang tidak bersungguh-sungguh melayani pembeli telah merugikan waktu mereka. Mungkin di antara mereka ada yang anaknya atau istrinya sakit. Atau mungkin ia harus segera berangkat dalam perjalanan jauh dan lain sebagainya. Yang jelas bersikap abai terhadap pembeli bukan hanya merugikan orang lain, malainkan ia juga tindakan yang sangat tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada seorang tamu saja, Rasulullah saw. mengajarkan agar kita selalu menghormatinya. Bahwa kata Nabi: “Tidak sempurna iman seseorang yang tidak menghormati tamu.” Apa lagi melayani seorang pembeli dengan sungguh-sungguh, itu tidak saja menghormati orang lain seperti menghormati seorang tamu, melainkan lebih dari itu ia akan memperoleh keuntungan duniawi. Banyak orang yang tidak mau berbelanja di sebuah toko karena jeleknya pelayanannya. Dan banyak orang yang suka berbelanja di sebuah toko karena servisnya yang baik dan memuaskan. Sebuah tempat penyucian mobil dengan ruang tunggu berAC jauh lebih disukai orang dari pada tempat lainnya yang tanpa ruang tunggu. Di antara pilar bisnis profesional yang diajarkan Rasulullah saw. adalah bagaimana membuat para pembeli nyaman, senang dan merasa aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai-sampai dikatakan dalam sebuah pepatah bisnis “pembeli adalah raja” ini maksudnya adalah bahwa pembeli harus dilayani dengan sungguh-sungguh. Bahwa pembeli harus benar-benar dibikin nyaman dan senang. Bahwa pembeli benar-benar disambut dengan wajah ceria dan senyum yang indah. Bukan malah dipersulit apalagi disakiti atau ditipu. Sungguh sutau tindakan yang merugikan bila seorang pedagang bertindak cuek dan acuh terhadap pelangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tidak Menepati Janji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali seorang pedagang tidak menepati janji, para pembeli akan lari darinya. Karenanya jangan mudah berjanji jika tidak bisa memenuhinya. Islam mengajarkan bahwa janji harus dipenuhi. Rasulullah saw. pernah berjanji dengan salah seorang sahabatnya untuk bertemu di sebuah tempat.&lt;span class="fullpost"&gt; Tiba-tiba orang tersebut lupa. Setelah tiga hari ia baru ingat. Ia segera mendatangi tempat tersebut. Ternyata di sana ia masih melihat Nabi menunggu. Nabi menegurnya: Ada di mana engkau selama ini wahai laki-laki. Perhatikan betapa luar biasa Rasulullah saw. dalam menepati janji. Sampai tiga hari ia berkorban perasaan menunggu di tempat yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menepati janji dibutuhkan kemauan yang kuat. Karena itu Nabi Adam as. ketika melanggar, Allah swt. menggambarkan ia lupa dan tidak mempunyai kemauan yang keras.(lihat QS. Thaha:15). Banyak para pedagang yang begitu mudah melanggar janji. Dan banyak para bos yang tidak menepati janji bagi karyawannya. Ingat bahwa setiap janji ada catatannya di sisi Allah swt. Maka siapapun yang melanggarnya tidak saja ia telah kehilangan kepercayaan dari mitranya melainkan juga dapat ancaman dari Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tidak Transparan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pedagang yang baik ia pasti tidak mau membuat penbelinya rugi. Banyak para pembeli rugi karena sikap pedagang yang tidak transparan. Tidak transparan maksudnya tidak terus terang mengenai kualitas barang yang ia jual. Banyak barang yang secara kualitas di level dua misalnya, tetapi dipasaran dijual setara dengan level satu. Di antara keistimewaan ajaran Islam adalah al wuduuh (transparan). Tidak ada ajaran dalam Islam yang harus disembunyikan. Karena itu dalam dunia perdagangan seorang pedagang harus jelas apa yang ia jual. Banyak kejadian seorang penjual bakso misalnya yang biasanya menggunakan daging halal, diam-diam ia menggunakan daging haram, dengan tanpa memberitahukan secara terus terang kepada pembeli. Akibatnya setelah ketahuan, banyak pembeli yang mengutuknya. Banyak pembeli yang tidak percaya. Karena mereka merasa dirugikan, maka tidak ada lagi orang membeli lagi darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pedagang sejati ia tahu apa yang ia jual. Dan ia tahu bahwa tidak ada seseorang yang mau dirugikan. Oleh karena itu harus memasang brand yang jelas, bukan yang remang-remang. Sebab setiap yang remang-remang adalah syuhbhat. Dan setiap yang syubhat bukan hanya hukumnya haram tetapi juga merugikan orang lain. Karena Nabi melarang bay’ul gharar (menjual barang yang tidak jelas). Seperti menjual buah-buahan yang masih belum muncul dipohonnya. Atau menjaul anak unta yang masih dalam kandungan ibunya dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Suka Menunda Pembayaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak perusahaan besar menunda pembayaran terhadap mitra usaha kecil. Akibatnya banyak mitra usaha kecil yang terseok-seok dan tidak sedikit yang gulung tikar karena tidak punya modal untuk menjalankannya. Tindakan seperti ini bukan hanya merugikan melainkan juga mematikan mitra usaha kecil. Ingat bahwa prinsip utama dalam bisnis menurut Islam adalah saling menghidupkan bukan saling membunuh. Allah swt. berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. AlMaidah:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu setiap usaha yang mematikan usaha lain sehingga menyebabkan banyak orang menderita, itu bukan cara yang Allah swt. ajarkan. Allah swt. tidak suka kepada orang-orang yang dzalim, dengan menunda pembayaran terhadap mitra usahanya, padahal ia mampu membayarnya. Rasulullah saw. menekankan pentingnya pembayaran upah sebelum keringat karyawan itu kering. Maka sungguh tidak Islami dan mempersulit orang lain, pedagang yang main menangnya sendiri. Barang dagangan mitra dijual sementara pembayarannya ditunda, sehingga sang mitra menderita. Ini namanya pedagang yang ingin menang sendiri di atas penderitaan orang lain. Cara-cara seperti ini jelas bukan hanya menyiksa mitra tetapi juga akan mencabut keberkahan bisnisnya. Ingat bahwa yang paling menentukan sukses sebuah bisnis bukan banyaknya keuntungan melainkan turunnya keberkahan. Banyak bisnisman yang mampu mengeruk keuntungan tetapi karena tidak ada keberkahan di dalamnya, semua keuntungan itu malah menyeretnya ke dalam kesengsaraan tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Menjual Di Atas Harga Pasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pembeli ingin membeli barang yang sesuai dengan harga umum di pasar. Pedagang yang suka menaikkan harga di atas harga pasar, pasti akan dijauhi pembeli. Ingat bahwa hidup matinya sebuah usaha tergantung kepuasan mitra. Di antara yang paling dicari oleh mitra atau pembeli adalah kualitas barang dengan harga yang standar. Ingat bahwa prinsip dibolehkannya jual beli dalam Islam adalah dalam rangka at ta’aawun (tolong menolong) bukan saling mempersulit. Menentukan harga barang di atas harga standar di pasar adalah tindakan mencekik pembeli. Itulah rahasia mengapa al ihtikaar (monopoli) dilarang. Sebab dengan monopoli seseorang yang dzalim bisa menaikkan harga seenaknya tanpa memperhatikan harga pasar. Baginya ketika seseorang butuh ia pasti membeli berapapun harganya. Beginya tak perduli orang-orang menderita yang penting untung sebanyak-banyaknya. Itulah juga sebabnya mengapa Nabi saw. melarang seseorang mencegat pedagang di tengah jalan sebelum masuk ke pasar, dengan tujuan untuk mendapatkan harga lebih rendah di bawah harga pasar. Jadi Islam melarang seseorang menaikkan harga di atas harga pasar atau mengambil dagangan di bawah harga pasar. Mengapa? Supaya fair, tidak ada yang dirugikan dan supaya dipahami bahwa tujuan berbisnis adalah untuk saling menyelamatkan kemanusiaan bukan untuk saling menjatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pedagang yang kejam dengan mempermainkan harga di luar harga pasar jelas sangat dibenci oleh mitra atau pembeli. Dan bila anda seorang bisnisman lalu anda bertindak demikian, anda tidak akan sukses, karena bukan hanya masyarakat yang mengutuk anda melainkan Allah swt. dan seluruh penduduk langit malaknat anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menjual Barang Haram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitra yang baik dan beriman pasti tidak suka membeli barang-barang haram. Saya pernah bertemu dengan seseorang yang melarang saya untuk membeli makanan di sebuh toko. Saya tanya mengapa? Ia menjawab: Orang itu menjual daging babi. Benar sebuah toko yang menjual barang haram akan menjadi sasaran dibenci banyak orang. Lebih dari itu ia dibenci oleh Allah swt. Sebab dengan perbuatannya itu, ia telah tolong menolong dalam dosa. Allah melarang dengan tegas dalam firmannya: walaa ta’awanuu bil itsmi wal ‘udwaan (dan janganlah kalian saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menggandeng antara dosa dengan permusuhan, artinya bahwa setiap perbuatan dosa akan selalu mengantarkan kepada permusuhan. Karena itu tidak akan bahagia seseorang yang menjual barang-barang yang diharamkan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Terlalu Materialistis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan hidup materialistis cendrung menyebabkan banyak penyakit: (a) Kikir, banyak pedagang yang terlalu ketat materialistis, menjadi kikir dan tidak mau bersedekah dan bahkan tidak pernah membayar zakatnya. Sebab ia menganggap bahwa sedekah itu mengurangi total keuntungan yang ia dapatkan. Sudah pasti bahwa orang-orang kikir dibenci oleh mitra. (b) Kaku dan serba perhitungan yang bertele-tele. Akibatnya banyak mitra yang tersiksa setiap bekerja sama dengannya. Sudah pasti pedagang seperti ini akan dijauhi oleh mitranya. (c) Terlalu ngebet mengejar keuntungan, sehingga cendrung bertindak dzalim atau bahkan kadang-kadang menghalalkan cara-cara yang jelas haram. Akibatnya banyak pihak dari mitra yang dirugikan. Sudah pasti bahwa pedagang seperti ini akan menjadi musuh yang selalu mengancam mitra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah swt. selalu menekankan dalam Al Qur’an pentingnya meningkatkan ketakwaan. Mengapa? Supaya manusia tidak menjadi mahluk yang semata materialistik. Bahwa manusia mempunyai dimensi ruhani. Bahwa kebahagiaan tidak mungkin dicapai semasih seseorang mengkotakkan dirinya dalam dinding meterialisme. Karena itu seorang pedagang haruslah benar-benar berjuang untuk menjadikan prinsip atata’aawun fil birri wat taqwaa sebagai tujuan hidupnya. Dengan prinsip ini perniagaannya bukan beruntung melainkan lebih dari itu ia akan berkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Monopoli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monopoli adalah tindakan ingin untung sendiri dalam dunia bisnis. Tidak perduli orang lain menderita. Rasulullah saw. mengancam orang-orang yang monopoli dengan ancaman yang sangat mengerikan. Bahwa orang melakukan tindak monopoli dalam perdagangannya ia telah memutuskan hubungan dengan Allah swt. dan Allah swt. memutuskan hubungan dengannya. Ini menunjukkan bahwa Allah swt. tidak suka manusia yang hanya ingin kaya sendiri, atau menang sendiri. Allah swt. mengajarkan agar manusia saling tolong menolong. Bahwa bukan ajaran Islam setiap cara-cara bisnis yang membuat orang lain tercekik. Karenanya riba diharamkan, karena ia pasti akan mencekik mereka yang lemah. Begitu juga monopoli diharamkan karena ia pasti mencekik banyak mitra yang tidak punya modal dan bahkan mencekik para pembeli yang berekonomi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, bahwa setiap tindakan mempersulit orang lain, Islam pasti melarangnya. Termasuk dalam urusan bisnis dan jual beli. Itulah rahasia mengapa riba, monopoli dan bentuk-bentuk praktek yang semisalnya diharamkan. Itu tidak lain karena mencekik dan mempersulit orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Tidak Manusiawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, Allah swt. menghalalkan juali beli, tetapi bukan untuk maksud memeras orang lain. Dalam Al Qur’an Allah swt. sangat menjunjung tinggi manusia dan kemanusiaan. Segala tindakan yang menyengsarakan manusia sangat di haramkan. Seorang pedagang yang kejam, dan hanya mementingkan keuntungan materi semata, tanpa melihat kemanusiaan, pasti sangat dibenci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah melihat bagaimana orang-orang menjauhi seorang pengusaha yang kejam. Ia suka mengambil barang dari orang lain dengan harga yang sangat murah, lalu menjual kepada orang lain dengan harga yang sangat mahal di luar kemapuan rata-rata. Saya benar-benar menyaksikan bahwa tidak sedikit orang yang menderita kerena perilaku pedagang yang kejam dan tidak manusiawi. Ingat bahwa tujuan berbisnis bukan semata mengeruk keuntungan, melainkan lebih dari itu untuk saling meringankan dan besinergi. Ingat bahwa seorang pengusaha, tidak bisa berdiri sendiri, melainkan ia juga tergantung kapada orang lain. Ada sebuah prinsip menarik dalam dunia bisnis dan telah membuat banyak orang mencapai sukses: “Tidak apa-apa keuntungan sedikit tetapi terus menerus.” Ini sungguh lebih baik dari pada keuntungan banyak dengan cara mencekik tetapi hanya sekali setelah itu usahanya mati dan tidak berlanjut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Bermain Sogok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sogok menyogok adalah penyakit sosial yang sangat merugikan. Karena itu Allah swt. melaknat segala bentuk sogok menyogok. Rasululah saw. bersabda: la’natullahi alar raasyi wal murtasyii (Allah melaknat orang-orang yang menyogok dan yang diberi sogok). Ini menunjukkan bahwa tidak mungkin berkah hidup pengusaha yang suka bermain sogok, hanya untuk memudahkan jalan bisnisnya. Di antara rahasia mengapa Allah melaknat mereka: Pertama, karena permainan sogok akan mempersulit jalan bisnis orang lain yang bersih dan menjauhi sogok menyogok. Tidak sedikit penguasaha yang gulung tikar, usahanya dipersulit karena tidak mau membayar sogok yang jumlahnya tidak sedikit. Kedua, bahwa sogok menyogok bukan jalan untuk mendapatkan penghasilan, melainkan benalu yang dipaksakan dalam dunia bisnis. Akibatnya banyak para pedagang yang terpaksa menaikkan harga barang karena harus menutupi uang sogok yang dibayarkan. Perhatikan betapa sogok dampaknya bukan harus ditanggung oleh sang pengusaha saja, melainkan harus juga ditanggung oleh masayarakat secara luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, maka tidak mustahil dari kebiasaan sogok menyogok akan menyebar kerusakan multi dimensional dalam kahidupan sosial. Suatu contoh misalnya, dimudahkannya penjualan barang haram dan praktek-praktek haram yang merusak moral masyarakat, karena menggunakan pelicin yang disebut sogok. Perhatikan bila apa saja bisa diperdagangkan asal membayar sogok, tentu yang paling pertama kali akan menjadi korban adalah kemanusiaan. Karenanya Allah swt. dan Rasul-Nya sangat mengutuk praktek sogok menyogok tidak hanya dalam dunis bisnis saja melainkan dalam lapangan kehidupan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: DR. Amir Faishol Fath&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-2286048344100697668?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/2286048344100697668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/2286048344100697668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/08/bisnisman-yang-tak-disukai-mitra.html' title='Bisnisman Yang Tak Disukai Mitra'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nArTwPaJB-I/SJ04VDuggYI/AAAAAAAAAWA/sYLrW705nJg/s72-c/bisnisman.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-7119334488481057292</id><published>2008-08-27T12:48:00.000+07:00</published><updated>2008-08-27T12:48:00.529+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='t#'/><title type='text'>This HeLL!!!</title><content type='html'>Para pembaca yang budiman,,,&lt;br /&gt;Neraka adalah tempat yang disediakan Allah swt. bagi orang-orang kafir. Mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap syariat Allah dan mengingkari Rasulullah saw. Neraka merupakan wujud siksa Allah kepada musuh-musuh-Nya dan penjara bagi mereka yang berbuat dosa. Tempat ini adalah suatu kehinaan dan kerugian yang tiada taranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau hinakan dia; dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.” (Ali Imran: 192)&lt;br /&gt;“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (Ali Imran: 131)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang berdiri tegak menjaga api neraka adalah malaikat. Perawakannya besar. Ekspresi wajah dan suaranya amat garang. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tidak pernah durhaka kepada Rabb yang menciptakan diri mereka. Mereka senantiasa patuh terhadap semua perintah Rabb mereka. Coba simak ayat Al-Qur’an ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah malaikat penjaga neraka ada sembilan belas, seperti yang firman Allah swt.,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia, di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (Al-Muddatstsir: 26-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat, dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu kecuali sebagai ujian bagi orang-orang kafir.” (Al-Jin: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang budiman,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda seperti apa api neraka itu? Sanggupkah kulit dan daging Anda menahan panasnya yang membakar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda, “Api kamu ini hanyalah satu bagian dari tujuh puluh bagian api di neraka jahannam.” Para sahabat mengatakan, ”Yang ini pun sudah cukup berat panasnya.” Berkata Nabi, ”Bahkan api neraka itu melebihi sebanyak enam puluh sembilan kali lipat panasnya api dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Api neraka jahannam telah dinyalakan seribu tahun hingga menjadi merah. Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi putih. Kemudian dibakar lagi selama seribu tahun hingga menjadi legam, seperti malam yang gelap gulita.” (HR Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun orang yang dimasukkan ke dalam neraka, dia tidak akan keluar darinya.&lt;span class="fullpost"&gt; Pintu neraka berdiri kokoh dan tertutup rapat. Itulah pejara bagi orang-orang yang menganggap remeh berita tentang pengadilan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (Al-Hijr: 43-44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri. Mereka berada dalam neraka yang (pintunya) ditutup rapat.” (Al-Balad: 19-20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kafir dihalau ke neraka jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah para penjaganya kepada mereka, “Apakah belum pernah datang kepada kalian Rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Rabbmu dan memperingatkanmu akan pertemuan hari ini?” Mereka menjawab, “Benar telah datang.” Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang kafir. Dikatakan (kepada mereka), “Masukilah pintu-pintu neraka jahanam itu, sedang kamu kekal di dalamnya.” Maka neraka jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.” (Az-Zumar: 71-72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu darinya adalah bagian yang sudah ditentukan.” (Al-Hijr: 44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang abadi di dalam neraka adalah golongan kafir dan munafik. Ini firman Allah swt., “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami serta menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al-A’raf: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidakkah mereka, orang-orang munafik itu mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, mereka kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.” (At-Taubah: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zhalim (musyrik) itu, ”Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal, kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Yunus: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yang talinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya karena panasnya yang laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiada seorangpun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu, padahal dialah orang yang mendapat siksaan paling ringan.” (Bukhari-Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada di antara mereka yang dimakan api sampai ke mata kaki, ada yang dimakan sampai pinggangnya dan ada pula yang dimakan sampai ke tenggorokannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai manusia sekalian, menangislah! Jika tidak dapat menangis, maka paksakan dirimu untuk menangis! Karena sesungguhnya ahli neraka itu akan terus menangis hingga air matanya mengalir di pipi masing-masing, seperti air yang mengalir di sungai. Sampai air mata itu habis dan matanya pun pecah-pecah. Seandainya ada perahu yang diletakkan di situ, niscaya berlayarlah ia.” (HR Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya &lt;font color=red&gt;RAB&lt;/font color=red&gt; Jauhkanlah Kami dari adzab Neraka &lt;font color=red&gt;Mu&lt;/font color=red&gt;. Amin, ya Mujibassailin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           present @ Tim dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-7119334488481057292?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/7119334488481057292'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/7119334488481057292'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/08/this-hell.html' title='This HeLL!!!'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-662692644095435998</id><published>2008-08-24T12:43:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T12:43:00.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i#'/><title type='text'>Ingatlah ALLAH SWT!!! Pasti Engkau Menang!!!</title><content type='html'>Dari Abul-‘Abbas ‘Abdullah Bin ‘Abbas –-semoga Allah meridoinya- ia mengatakan, “Aku berada di belakang Rasulullah saw. Beliau mengatakan, ‘Nak, Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah; dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa jika seluruh umat berhimpun untuk memberikan manfaat (keselamatan) kepadamu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya selain apa yang sudah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya seluruh umat berhimpun untuk menecelakakanmu, niscaya mereka tidak dapat melakukannya kecuali kecelakaan yang memang sudah Allah tetapkan untukmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran-lembaran.” (diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan dalam riwayat selaian dari At-Tirmidzi, Rasulullah saw. bersabda, “Jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati-Nya di depanmu; kenalilah Allah pada saat mendapat kemudahan, niscaya Dia akan mengenalmu saat kamu mendapat kesulitan. Ketahuilah bahwa apa yang bukan jatahmu tidak akan mengenaimu dan apa yang menjadi jatahmu tidak akan salah sasaran. Ketahuilah bahwa pertolongan Allah bersama kesabaran; kelapangan ada bersama kesempitan; dan kemudahan ada bersama kesulitan.” (Al-Hakim dan Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Islam dan dakwah islamiyyah adalah dambaan para pejuang di jalan Allah. Salah satu bentuk kemenangan itu adalah manakala nilai-nilai ilahiyyah mendapat tempat dalam kehidupan manusia, baik dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat, negara, ekonomi, politik, maupun urusan lainnya. Nilai-nilai ilahiyyah yang dimaksud tentu bukan saja perilaku-perilaku saleh individual akan tetapi juga kesalehan yang berdaya guna semisal keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada kebenaran apa pun risikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai kemenangan itu tentu saja setiap Muslim harus berusaha secara optimal dalam batas-batas kemampuan manusiawi. Usaha optimal untuk mencapai kemenangan itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan seterusnya. Akan tetapi tetapi harus dipahami bahwa segala upaya sehebat apa pun yang dilakukan manusia bisa tidak punya makna sama sekali manakala tidak memdapat perkenana Allah swt. Dan sebaliknya betapapun serba terbatasnya kaum Muslimin –dalam hal material dan kuantitas personal– dalam upaya menegakkan kebenaran dan keadilan, jika Allah berkehendak untuk mengaruniakan kemenangan, tak satu kekuatan pun dapat menghalanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah, apakah kita termasuk orang yang layak mendapat pertolongan Allah itu? Tentu ada prasyarat pertolongan Allah turun kepada kita. Nah, hadits di atas sarat dengan pesan-pesan luhur yang akan mengantarkan manusia mencapai kemenangan yang didambakan itu. Sampai-sampai sebagian ulama mengatakan, “Saya merenungi hadits ini dan saya benar-benar terperangah dengannya. Amat disesalkan bila ada yang tidak memahami makna hadits itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ihfazhillah, jagalah Allah! Menjaga Allah, kata Abul-Faraj Al-Hambali dalam kitabnya Jami’ul-‘Ulumi Wal-Hikam, adalah menjaga aturan-aturan, hak-hak, perintah-perintah, dan larangan-larangan Allah swt. Tentu saja hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Jika seseorang melakukannya, maka ia termasuk orang-orang yang menjaga aturan-aturan Allah seperti yang disebutkan dalam ayat-Nya: “Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. 50: 32-33)&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘Hafizh’ (memelihara) yang tercantum pada ayat di atas ditafsirkan dengan ‘menjaga (melaksanakan) perintah-perintah Allah dan menjaga diri dari dosa-dosa dan selalu bersegera untuk bertaubat jika melakukan kesalahan-kesalahan.’ Di antara perintah-perintah agung yang harus dijaga oleh setiap Muslim adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara eksplisit Allah swt. memerintahkan kita menjaga shalat. Firman-Nya: “Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.” (QS. 2:238)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah memuji orang-orang yang memelihara shalat. Firman-Nya: “Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. 23:9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak aktivitas, semakin berat beban perjuangan, semakin besar target yang ingin kita capai, seharusnya semakin membuat kita dekat dengan Allah. Dan momentum di mana seorang hamba sangat dekat dengan Allah adalah saat ia bersujud. “Keadaan yang paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah saat di sujud. Maka perbanyaklah doa di kala sujud itu,” demikian sabda Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sangat ironis bila semakin banyak kegiatan malah semakin terlalaikan shalat; dan lebih celakalah lagi bila shalat itu dilalaikan justru dengan alasan kesibukan. Tidak akan ada barokah dari aktivitas yang melalaikan shalat. Apa pun alasannya. Termasuk dengan alasan bahwa yang penting adalah shalat aktivitas. Yang dimaksud dengan shalat aktivitas adalah kegiatan yang diklaim sebagai perjuangan menegakkan kebenaran. Itu saja dianggap cukup sekalipun meninggalkan shalat. Pasti perjuangan itu bukan di jalan Allah melainkan di jalan thaghut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Janji atau sumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas dan kredibelitas seseorang dapat dilihat, antara lain, dari tingkat komitmennya terhadap sumpah dan janji. Makanya Allah swt. memesankan agar orang beriman berpegang teguh kepada janji atau sumpah yang dibuatnya. Firman-Nya: “Dan peliharalah sumpah-sumpah kalian.” (QS. 5:89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (QS. 16:91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih berat lagi bobot janji itu apabila pelanggarannya dapat menyebabkan kesengsaraan orang banyak. Misalnya janji atau sumpah jabatan. Atau janji yang dibuat untuk menarik dan merekrut orang agar mendukung dirinya dan berpihak kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kepala dan Perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di antara hal yang wajib dijaga adalah kepala dan perut. Rasulullah saw. bersabda, “Malu yang sebenarnya kepada Allah adalah engkau menjaga kepala dengan segala yang termuat di dalamnya dan menjaga rongga perut dengan segala yang di kandung di dalamnya.” (Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Bazzar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga kepala dengan segala yang termuat di dalamnya di antaranya dengan menjaga pendengaran, penglihatan, lidah dari hal-hal yang diharamkan. Dan menjaga rongga perut adalah dengan menjaga hati dari segala penyakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjagaan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjagaan Allah kepada hambanya menyangkut dua hal: pertama, kemaslahatan duniawi seperti penjagaan fisik, anak, keluarga, harta. Ini seperti yang Allah firmankan, “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. 13:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terjadi misalnya pada Safinah maula (sahaya yang dimerdekakan oleh) Nabi saw. Saat perahu yang dinaikinya pecah ia terdampar di sebuah pulau. Di hutan ia bertemu dengan seekor singa. Ternyata singa itu memberi petunjuk jalan. Setelah itu sang singa pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dan ini yang paling penting, penjagaan dalam urusan agama, keimanan, dan akhlak. Allah menjaga para hambanya hingga mereka bisa menghindari perkara-perkara yang merusak iman dan akhlak, hingga mereka meninggal dunia dalam keadaan iman. Betapa saat-saat ini kita membutuhkan pemeliharaan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesejatian cita-cita untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan dengan berbagai upaya harus dibuktikan dengan sikap sejati dalam melakukan pendekatan kepada Allah. Dan kejujuran menegakkan syari’at Islam harus dibuktikan dengan kejujuran melaksanakannya baik dalam diri pribadi, keluarga, masyarakat, dan dalam segala peran yang diembannya. Allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           preset @ Tim dakwatuna.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-662692644095435998?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/662692644095435998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/662692644095435998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/08/ingatlah-allah-swt-pasti-engkau-menang.html' title='Ingatlah ALLAH SWT!!! Pasti Engkau Menang!!!'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-4381273461570963832</id><published>2008-08-21T12:38:00.000+07:00</published><updated>2008-08-21T12:38:00.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i#'/><title type='text'>Istiqamah Hidup</title><content type='html'>Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Ali Imran :102-103&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang Telah Taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan Dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. Dan bersabarlah, Karena Sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan. Huud:112-115&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, ia harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam. Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena ummat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu meimplementasikan dalam seluruh kisi-kisi kehidupannya. Dan orang yang mamupu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitment dan istiqomah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah Sholat Jum’at Yang Dimulyakan Allah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Secara terminology, istiqomah bisa diartikan dengan beberpa pengertian berikut ini;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;- Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqomah ia menjawab; bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Al-Hasan berkata: “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Mujahid berkata: “Istiqomah adalah komotmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ibnu Taimiah berkata: “Mereka beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepaadaNya tanpa menengok kiri kanan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun, baik di bulan Rmadhan maupun di bulan lainnya. Ia bak batu karang yang tegar mengahadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degredasi dalam perjalanan hidupnya. Ia senantiasa sabar dalam memegang teguh tali keimanan. Dari hari ke hari semakin mempesona dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan Islam. Ia senantiasa menebar pesona Islam baik dalam ruang kepribadiannya, kehidupan keluarga, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Itulah cahaya yang selalu menjadi pelita kehidupan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan kehidupan. Allah berfirman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan apakah orang yang sudah mati (hatinya karena kekufutran) kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 6:122)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS 11:112)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialahAllah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak adakekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.(QS 46:13-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Tips Istiqamah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesucian dan ketakwaan yang ada dalam jiwa harus senantiasa dipertahankan oleh setiap muslim. Hal ini disebabkan kesucian dan ketakwaan ini bisa mengalami pelarutan, atau bahkan hilang sama sekali. Namun, ada beberapa tips yang membuat seorang muslim bisa mempertahankan nilai ketakwaan dalam jiwanya, bahkan mampu meningkatkan kualitasnya. Tips tersebut adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Muraqabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muraqabah adalah perasaan seorang hamba akan kontrol ilahiah dan kedekatan dirinya kepada Allah. Hal ini diimplementasikan dengan mentaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya, serta memiliki rasa malu dan takut, apabila menjalankan hidup tidak sesuai dengan syariat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadiid (57) : 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda-ketika ditanya tentang ihsan, “Kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” (HR al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Mu’ahadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’ahadah yang dimaksud di sini adalah iltizamnya seorang atas nilai-nilai kebenaran Islam. Hal ini dilakukan kerena ia telah berafiliasi dengannya dan berikrar di hadapan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak ayat yang berkaitan dengan masalah ini, diantaranya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (an-Nahl (16) : 91)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (al-Anfaal (8) : 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Muhasabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah adalah usaha seorang hamba untuk melakukan perhitungan dan evaluasi atas perbuatannya, baik sebelum maupun sesudah melakukannya. Allah berfirman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hasyr (59) : 18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang cerdas (kuat) adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk hari kematiannya. Adapun orang yang lemah adalah orang yang mengekor pada hawa nafsu dan berangan-angan pada Allah.” (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khattab ra berkata, “Hisablah dirimu sebelum dihisab, dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang ….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Mu’aqabah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mu’aqabah adalah pemberian sanksi oleh seseorang muslim terhadap dirinya sendiri atas keteledoran yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah (2) : 179)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi salaf yang soleh telah memberikan teladan yang baik kepada kita dalam masalah ketakwaan, muhasabah, mu’aqabah terhadap diri sendiri jika bersalah, serta contoh dalam bertekad untuk lebih taat jika mendapatkan dirinya lalai atas kewajiban. Sebagaimana disebutkan dalam beberapa contoh di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khaththab ra pergi ke kebunnya. Ketika ia pulang, maka didapatinya orang-orang sudah selesai melaksanakan Shalat Ashar. Maka beliau berkata, “Aku pergi hanya untuk sebuah kebun, aku pulang orang-orang sudah shalat Ashar! Kini, aku menjadikan kebunku sedekah untuk orang-orang miskin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketika Abu Thalhah sedang shalat, di depannya lewat seekor burung, lalu beliau pun melihatnya dan lalai dari shalatnya sehingga lupa sudah berapa rakaat beliau shalat. Karena kejadian tersebut, beliau mensedekahkan kebunnya untuk kepentingan orang-orang miskin, sebagai sanksi atas kelalaian dan ketidak khusyuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima Mujahadah (Optimalisasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mujahadah adalah optimalisasi dalam beribadah dan mengimplementasikan seluruh nilai-nilai Islam dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya…” (al-Hajj (22) : 77-78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah saw. melaksanakan shalat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Aisyah ra. pun bertanya, ‘Mengapa engkau lakukan hal itu, padahal Allah telah menghapuskan segala dosamu?’ Maka, Rasulullah saw. menjawab, ‘Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur.’” (HR. al-Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah lima langkah yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang ingin mempertahankan nilai keimanan, yang ingin bertahan dan istiqamah di puncak ketakwaannya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua hamba-hamba-Nya yang senantiasa istiqamah, menjadi model-model muslim ideal dan akhirnya kita dijanjikan surga-Nya.amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          present @ Thalhah Nuhin, Lc.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-4381273461570963832?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/4381273461570963832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/4381273461570963832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/08/istiqamah-hidup.html' title='Istiqamah Hidup'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-5516235288197253571</id><published>2008-08-16T12:34:00.000+07:00</published><updated>2008-08-16T12:34:00.384+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='K#'/><title type='text'>Keajaiban Seorang Mukmin</title><content type='html'>Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas Tentang Hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini merupakan hadits shahih dengan sanad sebagaimana di atas, melalui jalur Tsabit dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Suhaib dari Rasulullah SAW, diriwayatkan oleh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab Al-Zuhud wa Al-Raqa’iq, Bab Al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, hadits no 2999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Imam Ahmad bin Hambal dalam empat tempat dalam Musnadnya, yaitu hadits no 18455, 18360, 23406 &amp; 23412.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;· Diriwayatkan juga oleh Imam al-Darimi, dalam Sunannya, Kitab Al-Riqaq, Bab Al-Mu’min Yu’jaru Fi Kulli Syai’, hadits no 2777.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Hadits Secara Umum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap mukmin digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai orang yang memiliki pesona, yang digambarkan dengan istilah ‘ajaban’. Pesona berpangkal dari adanya positif thinking seorang mukmin. Ketika mendapatkan kebaikan, ia refleksikan dalam bentuk syukur terhadap Allah swt. Karena ia paham, hal tersebut merupakan anugerah Allah. Dan tidaklah Allah memberikan sesuatu kepadanya melainkan pasti sesuatu tersebut adalah positif baginya. Sebaliknya, jika ia mendapatkan suatu musibah, ia akan bersabar. Karena ia yakin, hal tersebut merupakan pemberian sekaligus cobaan bagi dirinya yang ada rahasia kebaikan di dalamnya. Sehingga refleksinya adalah dengan bersabar dan mengembalikan semuanya kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urgensi Kesabaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran setengah keimanan. Sabar memiliki kaitan erat dengan keimanan: seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Oleh karena itu, Rasulullah saw. menggambarkan ciri dan keutamaan orang beriman sebagaimana hadits di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar merupakan istilah dari bahasa Arab dan sudah menjadi istilah bahasa Indonesia. Asal katanya adalah “shabara”, yang membentuk infinitif (masdar) menjadi “shabran“. Dari segi bahasa, sabar berarti menahan dan mencegah. Menguatkan makna seperti ini adalah firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahfi: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah bersabar pada ayat di atas adalah untuk menahan diri dari&lt;span class="fullpost"&gt; keingingan ‘keluar’ dari komunitas orang-orang yang menyeru Rabnya serta selalu mengharap keridhaan-Nya. Perintah sabar di atas sekaligus juga sebagai pencegahan dari keinginan manusia yang ingin bersama dengan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dari segi istilahnya, sabar adalah menahan diri dari sifat kegundahan dan rasa emosi, kemudian menahan lisan dari keluh kesah serta menahan anggota tubuh dari perbuatan yang tidak terarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri, terdapat 103 kali disebut dalam Al-Qur’an, baik berbentuk isim maupun fi’ilnya. Hal ini menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sabar merupakan perintah Allah. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153). Ayat-ayat yang serupa Ali Imran: 200, An-Nahl: 127, Al-Anfal: 46, Yunus: 109, Hud: 115.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Larangan isti’jal (tergesa-gesa). “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka…” (Al-Ahqaf: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pujian Allah bagi orang-orang yang sabar: “…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Baqarah: 177)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Allah akan mencintai orang-orang yang sabar. “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah senantiasa akan menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. “Dan bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mendapatkan pahala surga dari Allah. (Ar-Ra’d: 23 - 24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesabaran Sebagaimana Digambarkan Dalam Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam Al-Qur’an, dalam hadits banyak sekali sabda Rasulullah yang menggambarkan kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kesabaran merupakan “dhiya’ ” (cahaya yang amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya yang terang…” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan dilatih secara optimal. Rasulullah pernah menggambarkan: “…barang siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan menjadikannya seorang yang sabar…” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik. Rasulullah mengatakan, “…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga. Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku gantikan surga baginya’.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas’ud dalam sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas’ud berkata”Seakan-akan aku memandang Rasulullah saw. menceritakan salah seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap darah dari wajahnya seraya berkata, ‘Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika marah.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkan dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullan saw. bersabda, “Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR. Bukhari &amp; Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah saw. mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Dan wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku.” (HR. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-Bentuk Kesabaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama membagi kesabaran menjadi tiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah. Merealisasikan ketaatan kepada Allah, membutuhkan kesabaran, karena secara tabiatnya, jiwa manusia enggan untuk beribadah dan berbuat ketaatan. Ditinjau dari penyebabnya, terdapat tiga hal yang menyebabkan insan sulit untuk sabar. Pertama karena malas, seperti dalam melakukan ibadah shalat. Kedua karena bakhil (kikir), seperti menunaikan zakat dan infaq. Ketiga karena keduanya, (malas dan kikir), seperti haji dan jihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan. Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti ghibah (baca; ngerumpi), dusta, dan memandang sesuatu yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, seperti mendapatkan musibah, baik yang bersifat materi ataupun inmateri; misalnya kehilangan harta dan kehilangan orang yang dicintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat-kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidaksabaran (baca; isti’jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang harus diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif pada amal. Seperti hasil yang tidak maksimal, terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat guna meningkatkan kesabaran. Di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengikhlaskan niat kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memperbanyak tilawah (membaca) Al-Qur’an, baik pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memperbanyak puasa sunnah. Puasa merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mujahadatun nafs, yaitu sebuah usaha yang dilakukan insan untuk berusaha secara giat untuk mengalahkan nafsu yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti malas, marah, dan kikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perlu mengadakan latihan-latihan sabar secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi, misalnya. Kemudian melatih diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para sahabat, tabi’in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           present @ Tim dakwatuna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-5516235288197253571?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/5516235288197253571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/5516235288197253571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/08/keajaiban-seorang-mukmin.html' title='Keajaiban Seorang Mukmin'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-1472192225918059064</id><published>2008-08-14T12:32:00.000+07:00</published><updated>2008-08-14T18:08:20.623+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='i#'/><title type='text'>I Love Islam</title><content type='html'>Ustadz Syamsi Ali berkata, “Untuk membangun kedamaian antara umat beragama tidak perlu pluralisme. Sebab Islam itu sendiri sudah damai. Orang-orang yang mengamalkan Islam pasti membawa kedamaian.” Dan memang benar, sebab tidak ada pemeluk agama manapun yang mau mengakui bahwa agamanya sama benarnya dengan agama lain. Masing-masing pasti akan mengaku bahwa apa yang ia yakini, itu paling benar. “Jadi bukan solusi membangun pluralisme dalam rangka membangun kedamaian.” Kata Ustad Syamsi lebih lanjut. “Melainkan berdasarkan pengalaman kita bisa membangun kedamaian dengan cara saling menghormati, dan saling berbuat baik, sebagaimana Islam sendiri mengajarkannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di New York Ustadz Syamsi telah berhasil membuktikan itu. Ia termasuk tujuh dari tokoh agama yang berpengaruh di Amerika. Ia mengatakan, “Bahwa hanya dengan menunjukkan keindahan Islam yang benar, kita bisa hidup bersama dengan masyarakat agama lain. Bukan dengan mengubah ajaran yang sudah ada.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Amerika,” ceritanya lebih lanjut, “Kita telah melakukan itu. Dalam pemilihan wali kota misalnya, kami umat Islam mendukung seorang calon yang kami anggap adil, sekalipun ia dari agama lain. Dan ternyata dengan cara itu kita semua bisa hidup berdampingan saling menghargai. Pada acara Ramadhan seringkali wali kota mengundang tokoh-tokoh agama Islam untuk acara ifthar di kantornya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi tidak usah dibuat-buat dalam menampilkan Islam,” lanjutnya. “Tampilkan Islam apa adanya secara benar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu pandangan Anda tentang gagasan pluralisme?” tanyaku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Justru dengan gagasan tersebut ekstrimisme muncul,” jawabnya. “Coba lihat, bagaimana reaksi umat Islam terhadap gagasan tersebut. Banyak orang-orang Islam yang tadinya tenang menjadi marah. Dari kemarahan tersebut tidak mustahil akan lahir tindakan-tindakan yang tidak terkendalikan. Coba tidak ada gagasan tersebut, umat Islam akan tenang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di Amerika sendiri bagaimana gagasan tersebut?” tanyaku lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu hanya gagasan yang menyebar di kalangan akademisi saja. Di tataran sosial gagasan tersebut tidak laku. Masyarakat tidak membutuhkan itu. Masyarakat membutuhkan kerja nyata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kini sudah saatnya umat Islam menampilkan Islam yang santun dan jujur. Bukan Islam yang garang dan penuh permusuhan. Islam, Allah turunkan untuk membangun kedamaian. Rasulullah saw. selalu mencontohkan itu. Banyak kisah-kisah yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. selalu membantu orang lain sekalipun ia beragama Yahudi. Dan bahkan Rasulullah biasa melakukan transaksi dengan mereka. Umar bin Khaththab pernah menghukum Amru bin Ash salah seorang gubernurnya, karena bertindak tidak adil terhadap salah seorang rakyatnya. Padahal orang tersebut orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an sendiri Allah swt. masih menggunakan istilah yang halus (ahlul Kitab) untuk kaum Yahudi dan Nasrani. Padahal Allah swt. tahu bahwa mereka telah mengubah ajaran yang asli. Bahkan Allah swt. masih membolehkan kita memakan hewan sembelihan mereka dan kaum muslimin yang lelaki dibolehkan menikahi wanita mereka. Ini suatu indikasi bahwa seorang muslim hendaknya selalu menyikapi mereka dengan penuh kedamaian bukan dengan menganggap mereka sebagai musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari Umar bin Khaththab berhenti di depan sebuah gereja. Lalu ia minta agar rahib yang ada dalam gereja tersebut keluar menemuinya. Begitu bertemu, Umar memandang wajah sang rahib dengan penuh kasih sayang. Tiba-tiba air mata menetes membasahi pelipis Umar. Sahabat yang menemani Umar bertanya, apa gerangan yang terjadi pada Umar? Umar menjawab, “Ketika aku melihat wajah rahib ini, aku teringat ayat ’aamilatun nasibah tashlaa naran hamiya. Maksudnya, kasihan sang rahib ini, ia capek-capek di dunia, tetapi kelak ia akan dibakar dalam neraka.” Perhatikan bagaimana Umar memandang non-muslim dengan rasa penuh cinta dan kasih bukan dengan permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sebenarnya ajaran Islam. Jangankan memperlakukan manusia, kepada binatang pun Islam mengajarkan agar kita selalu berbuat baik. Rasulullah saw. mengajarkan agar kita di saat menyembelih binatang selalu mempertajam pisau supaya binatang sembelihan tersebut tidak tersiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain diceritakan bahwa seorang wanita ahli ibadah dimasukkan ke dalam neraka karena hanya mengikat seekor kucing sampai mati. Hadist lainnya menyebutkan bahwa seorang laki-laki pendosa diampuni oleh Allah swt. dosa-dosanya karena memberikan minum kepada seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya kehausan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          present @ DR. Amir Faishol Fath&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-1472192225918059064?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1472192225918059064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/1472192225918059064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/08/i-love-islam.html' title='I Love Islam'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1829901384202012111.post-426084802890087870</id><published>2008-08-10T22:24:00.000+07:00</published><updated>2008-08-11T01:23:01.671+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='M#'/><title type='text'>Mengenal Islam</title><content type='html'>Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Dimulai dari Nabi Adam a.s. dan Nabi Muhammad saw. menjadi penutup seluruh risalah. Allah swt. menegaskan hal ini melalui lisan para nabi. Misalnya dari lisan Nabi Nuh a.s. sendiri kita mendapat informasi bahwa Allah menyuruhnya menjadi muslim. &lt;font color=red&gt;“… dan aku disuruh supaya tergolong menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).” (Yunus: 72)&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Agama Para Nabi dan Rasul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul. Dimulai dari Nabi Adam a.s. dan Nabi Muhammad saw. menjadi penutup seluruh risalah. Allah swt. menegaskan hal ini melalui lisan para nabi. Misalnya dari lisan Nabi Nuh a.s. sendiri kita mendapat informasi bahwa Allah menyuruhnya menjadi muslim. &lt;font color=red&gt;“… dan aku disuruh supaya tergolong menjadi orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim).” (Yunus: 72)&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama juga keluar dari lisan Nabi Ibrahim dan Isma’il. &lt;font color=red&gt;“Ya Rabb kami, jadikanlah kami berdua sebagai orang-orang yang berserah diri kepada-Mu (muslim)….” (Al-Baqarah: 128).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, agama Islam-lah yang diwasiatkan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. &lt;font color=red&gt;“Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama (Islam) untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaaan tetap memeluk agama Islam.” (Al-Baqarah: 132).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Musa a.s. pun menekankan hal yang sama kepada para pengikutnya.&lt;font color=red&gt; “… maka hendaklah hanya kepada-Nya kamu bertawakal jika kamu benar-benar muslim (orang yang berserah diri kepada-Nya).”&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu tak heran jika Nabi Yusuf a.s. sangat berharap mati dalam keadaan Islam. &lt;font color=red&gt;“… wafatkanlah aku sebagai seorang muslim, dan gabungkan aku bersama orang-orang yang shalih.” (Yusuf: 10).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga yang diminta diminta para ahli sihir Fir’aun yang bertaubat dan beriman kepada Allah saat kalah melawan Musa a.s. lalu dihukum salib oleh Fir’aun. &lt;font color=red&gt;“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam (berserah diri sepenuhnya kepada-Mu).” (Al-A’raf: 126).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawariyin (pengikut setia Nabi Isa a.s.) pun menegaskan identitas keimanan mereka sebagai orang Islam. &lt;font color=red&gt;“Kami beriman kepada Allah dan kami bersaksi sesungguhnya kami adalah muslim (orang-orang yang berserah diri).” (Ali Imran: 52).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratu Saba’ menegaskan hal yang sama bahwa ia telah beriman kepada Allah dan telah menjadi seorang muslimah. Wa aslamtu ma’a Sulaiman lillahi rabbil alamiin &lt;font color=red&gt;“… dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (An-Naml: 44)&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. menegaskan bahwa agama para nabi dan rasul adalah satu: Islam. &lt;font color=red&gt;“Nabi-nabi itu bersaudara lain ibu. Ibunya berbeda-beda, tetapi agamanya satu,”&lt;/font color=red&gt; begitu kata beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa diinuhum waahidan yang dikatakan Rasulullah saw. adalah sesuai dengan apa yang ditegaskan oleh Allah swt. dalam Al-Qur’an. &lt;font color=red&gt;“Dia telah mensyariatkan agama kepadamu, sebagaimana yang diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan yang telah diwahyukan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah kamu bercerai-berai di dalamnya….” (Asy-Syura: 13).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Makna Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah menyerahkan diri kepada Allah swt. dengan menerima segala perintah, larangan, dan kabar-Nya yang terdapat dalam wahyu. Siapa yang menyerahkan wajah, hati, dan anggota badannya kepada Allah swt. dalam semua aspek kehidupan, maka ia adalah seorang muslim.&lt;br /&gt;Para nabi dan rasul adalah orang-orang muslim terdepan yang paling menyerahkan diri kepada Allah swt. &lt;font color=red&gt;“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb alam semesta. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dengan itu aku diperintahkan, dan aku adalah orang-orang Islam pertama,”&lt;/font color=red&gt; begitu senandung mereka. (lihat Al-An’am: 162-163 dan lihat juga Al-A’raf: 143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menyerahkan diri secara total kepada Allah swt. dan tidak menerima hukum-hukum-Nya untuk diaplikasikan dalam kehidupan, kita belum dianggap Islam. Hal ini termaktub dalam pernyataan Allah swt. Al-Qur’an ketika ada yang menolak Rasulullah menerapkan hukum seperti yang telah Allah tetapkan. &lt;font color=red&gt;“Maka demi Rabb-mu, nereka tidak beriman (sebenarnya) hingga mereka menjadikan kamu hakim untuk memutuskan perselisihan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa dalam dirinya keberatan dalam putusanmu, dan mereka menerima dengan sepenuh hati.” (An-Nisa: 65).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum-hukum Allah hanya dapat diketahui dengan perantara wahyu yang sampai kepada kita melalui para rasul yang jujur. Jika manusia punya logika yang jernih, tidak ada alasan baginya untuk tidak menerima dan melaksanakan hukum-hukum Allah. Sebab, Allah yang menciptakan kita. Sudah seharusnya kita tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta. Konsekuensi menjadi hamba adalah mentaati peraturan yang ditetapkan oleh Allah swt. Dan, sudah pasti aturan-aturan itu adalah kaidah-kaidah yang sesuai dengan karakteristik kita sebagai manusia karena dibuat oleh Allah Yang Mengetahui segala sesuatu lagi Maha Bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Diutus ke Semua Umat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedamaian hidup manusia sangat ditentukan oleh penyerahan dirinya secara total kepada Allah swt. Karena itu, Allah tidak membiarkan satu umat pun tanpa didatangi rasul. &lt;font color=red&gt;“… dan setiap umat mempunyai seorang pemberi peringatan” (Al-Fathir: 24). “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (yang menyeru) sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut…” (An-Nahl: 36). “Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa mereka, agar ia dapat memberi penjelasan yang terang kepada mereka…” (Ibrahim: 4).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululah saw. pernah menjelaskan kedudukan umatnya terhadap umat-umat nabi sebelumnya. Kata beliau, &lt;font color=red&gt;“Kamu sekalian menyempurnakan 70 umat, dan kamu adalah yang sebaik-baik dan semulia-mulia umat di sisi Allah.” (Tirmidzi).&lt;/font color=red&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sangat keliru jika ada yang berasumsi bahwa para rasul hanya diutus kepada umat tertentu saja dan di kawasan lain tidak pernah diutus rasul. Sebab, secara tegas Allah menyatakan kepada semua umat manusia telah sampai risalah dan ada rasul di antara mereka. Hanya saja kita tidak boleh gegagah menyatakan bahwa si A adalah rasul yang diutus Allah untuk orang-orang Persia, si B nabi untuk orang Cina, si C untuk orang India; si D nabi penduduk asli pedalaman Amerika; kecuali ada wahyu yang mengabarkannya kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Zaratusta nabi untuk orang Persia kuno? Tidak ada nash yang menerangkan hal itu kepada kita. Tapi, kita yakin bahwa orang-orang Persia kuno pernah punya rasul yang memberi peringatan kepada mereka. Hanya saja, kata Ibnu Abbas, “Ketika nabi yang diutus kepada penduduk Persia wafat, Iblis menulis (mengajarkan) agama Majusi kepada mereka.” (Abu Dawud. Lihat Jami’ul Ushul).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1829901384202012111-426084802890087870?l=syiaran.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/426084802890087870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1829901384202012111/posts/default/426084802890087870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://syiaran.blogspot.com/2008/08/mengenal-islam.html' title='Mengenal Islam'/><author><name>ebook</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18130692389803777146</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_nArTwPaJB-I/SIQ4s86XGOI/AAAAAAAAAS0/Orr2cdEG4lE/S220/samurai.gif'/></author></entry></feed>
